JUKNIS PEDOMAN LOMBA MENDONGENG BERCERITA FLS3N SEKOLAH DASAR SD 2026

 

D.   MENDONGENG

1.    Penjelasan Cabang Lomba

Kegiatan mendongeng merupakan bagian dari tradisi sastra lisan, dan pementasannya adalah bagian dari seni pertunjukan dengan konsep pertunjukan tunggal (one man show) tanpa membaca teks atau naskah cerita. Cerita dalam lomba mendongeng adalah fiksi, bersumber dari buku cerita anak atau karya peserta/guru/pelatih, atau folklore (foklor)yang berkembang di wilayah peserta atau nusantara.

2.    Persyaratan dan Materi Lomba

a.    Persyaratan dalam penciptaan karya (perlengkapan/peralatan dalam menciptakan karya yang harus dipersiapkan peserta).

b.    Tema:

1)    Umum:

Menumbuhkan karakter bangsa melalui kreativitas dan apresiasi seni budaya

2)    Khusus:

Pilihan tema khusus dalam lomba Mendongeng FLS3N 2026 adalah:

a)    Kejujuran sebagai Warisan Leluhur

b)    Tanggung Jawab Anak Bangsa dalam Cerita Rakyat

c)    Keberanian yang Bijaksana, Bukan Nekat

d)    Kesetiaan dan Keteguhan Hati dalam Dongeng Nusantara

e)    Kerja Keras dan Kesabaran dalam Kisah Tradisi Lokal

f)      Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan

g)    Kearifan Lokal sebagai Penuntun Hidup Generasi Muda

h)    Dongeng dari Kampungku untuk Indonesia

3.    Ketentuan & Materi Pelaksanaan Lomba

a.    Naskah dongeng dapat menyadur dari buku-buku cerita dongeng, bersumber dari cerita rakyat, legenda, fabel dari Indonesia atau karya orisinal/ asli peserta (ide atau cerita yang ditulis sendiri).

b.    Mendongeng menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, sederhana, dan mudah dipahami. Penggunaan Bahasa Daerah berbentuk kata; istilah; atau kalimat cerita,diperkenankan asalkandisertakan BahasaIndonesianya. Arti dalam bahasa Indonesia dituturkan (dalam bentuk mendongeng) setelah Bahasa Daerah tersebut. Penggunaan Bahasa Daerah tidak untuk keseluruhan cerita.

c.     Karya dongeng mencerminkan karakteristik usia siswa SD/sederajat,serta mengangkat budaya lokal.

d.    Setiap peserta dapat memilih isi cerita dalam dongeng sesuai dengan pilihan tema khusus di atas.

e.    Cerita tidak boleh mengandung unsur SARA

f.      Tidak perlu ada Kesimpulan atau penyampaian pesan moral di dalam atau diakhir mendongeng.

g.    Peserta disarankan menyebutkan judul buku/sumber cerita ; penulis dan illustrator (jika ada) dari buku/sumber cerita di awal atau akhir mendongeng.

h.    Peserta mengenakan seragam sekolah atau kostum selaras dengan cerita.

i.      Alat peraga diperbolehkan tapi tidak diwajibkan.

j.      Alat peraga yang digunakan hanya terbatas pada alat dukung.

k.     Durasi: 5–10 menit (termasuk perkenalan). 2 menit perkenalan, 8 menit penampilan mendongeng.

 

4.    Penilaian (Indikator Penilaian)

Aspek yang dinilai dalam Lomba Mendongeng SD/MI/Sederajat meliputi: Tafsir Cerita Menjadi Peristiwa (30%), Tafsir Karakter (20%), Tafsir Vokal (20%), Penghayatan dan Proporsi (20%), serta Tafsir Ruang (10%).

a.    Tafsir Cerita Menjadi Peristiwa, artinya mendongeng tidak berhenti sebagai rangkaian kata atau narasi, tetapi dialami penonton sebagai kejadian yang seolah berlangsung saat itu juga. Pendongeng tidak sekadar menceritakan bahwa sesuatu terjadi, melainkan menghadirkan kejadian itu secara imajinatif, membuat penonton merasa menyaksikan, mengalami, dan terlibat secara emosional. Peristiwa dalam mendongeng bersifat imajiner, psikologis, dramatik.

Indikator penilaian aspek cerita menjadi peristiwa meliputi:

1)    Kejelasan peristiwa cerita,

2)    Kekuatan dramaturgi,

3)    Penghayatan dan kehadiran,

4)    Penggunaan waktu dan ritme,

5)    Integrasi gerak, vokal, dan ruang,

6)    Respons spontan penonton,

7)    Serta keutuhan cerita dan pesan yang sesuai dengan tema lomba.

 

b.    Tafsir Karakter dalam seni pertunjukan mendongeng adalah kemampuan pendongeng memahami, memaknai, dan menghadirkan watak, peran, serta relasi tokoh-tokoh cerita melalui tubuh, suara, dan sikap penceritaan, tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai penyampai cerita. Tafsir karakter bersifat representative dan sugestif. Pendongeng menyiratkan karakter, bukan menampilkan secara utuh seperti aktor teater. Dengan kata lain, tafsir karakter adalah proses interpretatif, bukan imitasi total.

Indikator penilaian dalam aspek tafsir karakter adalah:

1)    Ketepatan peran pendongeng sebagai narator. Sebagai narator pendongeng berfungsi sebagai pemandu cerita, penjelas alur, penghubung antar adegan, penjaga ritme dan fokus penonton. Narator adalah poros cerita, bukan tokoh di dalam konflik.

2)    Ketepatan peran pendongeng sebagai penyampai tokoh/karakter dalam cerita. Sebagai tokoh, pendongeng menghadirkan karakter cerita melalui perubahan suara, postur tubuh, gesture khas, ritme bicara tertentu. Pendongeng tidak berpindah identitas sepenuhnya, melainkan memberi penanda karakter yang jelas.

3)    Transisi Karakter, momen ketika pendongeng berpindah dari peran narator ke tokoh atau sebaliknya.

 

c.     Tafsir vokal adalah cara pendongeng memahami, mengolah, dan memaknai suara sebagai alat utama penceritaan, sehingga suara tidak hanya berfungsi menyampaikan kata, tetapi juga membangun suasana, membedakan karakter, mengatur alur, menyalurkan emosi dan mengarahkan imajinasi pendengar. Dalam mendongeng, vokal adalah panglima utama, sementara gerak dan properti berfungsi mendukung. Indikator penilaian dalam aspek tafsir vokal meliputi:

1)    Tempo, adalah kecepatan berbicara dalam mendongeng (cepat, sedang, lambat), berkaitan langsung dengan suasana cerita, tingkat ketegangan, dan kondisi emosional tokoh.

2)    Irama, adalah pola naik-turun dan panjang-pendek suara dalam kalimat dan paragraf cerita. Irama membuat dongeng terasa hdup dan musikal, meskipun tanpa musik.

3)    Artikulasi, adalah kejelasan pengucapan bunyi, kata dan kalimat, sehingga cerita dapat dipahami dengan baik oleh pendengar.

4)    Dinamika permainan vokal, adalah variasi kekuatan, volume, warna suara, dan emosi sepanjang pertunjukan. Dinamika membuat dongeng menjadi tidak monoton, penuh kejutan, dan kaya emosi.

 

d.    Penghayatan adalah proses batin pendongeng dalam memahami, merasakan dan memaknai cerita beserta nilai, suasana, dan konflik didalamnya, sehingga cerita yang disampaikan terasa hidup, jujur, dan meyakinkan, tanpa harus dimainkan seccar teatrikal berlebihan.

Indikator penilaian aspek penghayan dalam mendongeng meliputi:

1)    Penghayan terhadap cerita,

2)    Penghayatan terhadap tokoh,

3)    Penghayatan terhadap suasana,

4)    Penghayatan terhadap nilai.

Proporsi adalah kemampuan pendongeng mengatur keseimbangan antara berbagai unsur pertunjukan , sehingga tdak ada aspek yang: berlebihan, mendominasi, atau justru hilang. Proporsi adalah seni mengukur “seberapa jauh” sesuatu ditampilkan.

Indikator penilaian aspek proporsi meliputi:

1)    Proporsi emosi,

2)    Proporsi narasi dan dialog,

3)    Proporsi vokal dan gerak,

4)    Proporsi imajinasi dan visual,

5)    Proporsi tempo dan ritme.

 

e.    Tafsir Ruang dalam seni pertunjukan mendongeng adalah cara pendongeng memahami, mengolah, dan memaknai ruang pertunjukan-baik ruang fisik maupun ruang imajiner-sebagai bagian dari bahasa bercerita. Dalam mendongeng, tafsir ruang menentukan: kejelasan alur cerita, kekuatan imajinasi penonton, efektivitas pesan nilai dan emosi.

Indikator penilaian pada aspek tafsir ruang dalam seni pertunjukan mendongeng adalah:

1)    Artistik, dalam mendongeng artistik adalah segala unsur visual yang membantu membangun dunia cerita, bersifat sugestif, bukan realistik. Artinya, satu benda bias bermakna banyak hal tergantung tafsir dan cara pendongeng memainkannya, meliputi: property, alat peraga, dan kostum sederhana.

2)    Blocking, dalam mendongeng blocking adalah penataan posisi pendongeng di dalam ruang pertunjukan termasuk titik berdiri, arah hadap, perpindahan posisi, jarak dan dengan penonton. Blocking dalam tata bahasa ruang dapat membantu penonton memahami siapa yang berbicara, dimana kejadian berlangsung, perubahan situasi, dan emosi.

3)    Gerak tubuh (Movement), adalah gerak tubuh pendongeng yang sadar dan bemakna, meliputi: langkah, gestur tangan, perubahan postur, level tubuh (berdiri, membungkuk, duduk). Gerak dalam mendongeng bukan tari, tetapi bahasa tubuh yang mendukung cerita.

 

Penilaian peserta Lomba Mendongeng SD/MI/Sederajat Tahun 2026 dengan kriteria dan instrument sebagai berikut:

No.

Komponen

Indikator

Bobot

Keterangan

Skala

(Max)

Nilai

1.

Cerita Menjadi Peristiwa

1. Kejelasan peristiwa cerita

2. Kekuatan dramaturgi

3. Penghayatan dari kehadiran

4. Penggunaan waktu dan ritme

5. Integrasi vokal, gerak dan ruang

6. Respons spontan penonton

7. Keutuhan cerita dan pesan yang sesuai dengan tema lomba

30%

7 indikator terpenuhi

95

 

2.

Tafsir Karakter

1.     Peran Pendongeng Sebagai Narator

2.     Peran Pendongeng Sebagai Tokoh dalam Cerita

3.     Transisi Karakter

20%

3 indikator terpenuhi

90

 

3.

Tafsir Vokal

1.     Tempo

2.     Irama

3.     Artikulasi

4.     Dinamika permainan vokal

20%

4 indikator terpenuhi

90

 

4.

Penghayatan

1.     Penghayatan terhadap Cerita, Tokoh, Suasana, dan Nilai

2.     Proporsi Emosi

3.     Proporsi Narasi dan Dialog

4.     Proporsi Vokal dan Gerak

5.     Proporsi Imajinasi dan Visual

6.     Proporsi Tempo dan ritme

20%

6 indikator terpenuhi

90

 

5.

Tafsir Ruang

1.     Artistik

2.     Blocking

3.     Pergerakan (Movement)

10%

3 indikator terpenuhi

80

 

 

·       Coret yang tidak perlu

Interval penilaian pada setiap indikator:

60 – 65         : Kurang

70 – 75         : Cukup

80 – 85         : Baik

90 – 100       : Sangat Baik



April 20, 2026

0 comments:

Post a Comment