
Visiuniversal-blog--Awal Organisasi Pramuka di Indonesia ditandai dengan munculnya cabang milik Belanda dengan nama Nederlandesche Padvinders Organisatie (NPO) pada 1912 yang kemudian berubah nama menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereniging (NIVP) pada 1916, di tahun yang sma Mangkunegara VII membentuk Organisasi Kepanduan pertama Indonesia dengan nama Javaansche Padvinder Organisatie (JPO). Lahirnya JPO memicu gerakan nasional lainnya untuk membuat organisasi sejenis pada saat itu diantaranya Hizbul Wahton (HM) pada 1918, JJP (Jong Java Padvinderij) pada 1923, Nationale Padvinders (NP), Nationaal Indonesische Padvinderij (NATIPIJ), Pandoe Pemoeda Sumatra (PPS) dan dan penyatuan organisasi pandu diawali dengan lahirnya INPO (Indonesische Padvinderij Organisatie) pada 1926 sebagai peleburan dua organisasi kepanduan, Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO).
Melihat semakin banyaknya organisasi pramuka milik Indonesia, Belanda melarang organisasi kepramukaan di luar milik Belanda mengguakan istilah Padvinder. Oleh karena itu K.H Agus Salim memperkenalkan istilah “Pandu” atau “Kepanduan” untuk organisasi Kepramukaan milik Indonesia. Pada 23 Mei 1928 muncul PAPI (Persaudaraan Antar Pandu Indonesia) yang anggotanya terdiri dari INPO, SIAP, NATIPIJ, PPS. Setelah kemerdekaan lahirlah kepanduan yang bersifat nasional yaitu Pandu Rakyat Indonesia pada 28 Desember 1945. Dalam perjalanan sejarahnya organisasi kepanduan yang jumlahnya ratusan dibagi menjadi beberapa federasi, menyadari adanya kelemahan dari beberapa federasi tersebut maka dibentuklah PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia), namun juga terkendala karena kurangnya kekompakan antara anggota yang tergabung didalamnya.
Pada 1960 pemerintah dan MPRS berupaya untuk membenahi organisasi kepramukaan di Indonesia, sebagai tindak lanjut upaya tersebut pada 9 Maret 1961 Preseiden Soekarno mngumpulkan tokoh-tokoh dari gerakan kepramukaan indonesia, presiden mengatakan bahwa organisasi kepanduan yang ada harus diperbaharui, aktivitas pendidikan haruslah diganti dan seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu dengah nama Pramuka. Dalam kesempatan ini juga Presiden membentuk panitia pembentukan gerakan Pramuka yang tediri dari Sultan Hamengkubuwono XI, Prof. Prijono. Dr. A. Aziz Saleh serta Achmadi. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Hari Tunas Gerakan Pramuka.

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Sri Sultan Hamengkubuwono IX menerima panji Gerakan Pramuka dari Presiden Soekarno pada 14 Agustus 1961
(Foto: Koleksi Museum Sumpah Pemuda)
Buah hasil kerja panitia tersebut yaitu dikeluarkannya lampiran keputusan Presiden nomor 238 tahun 1961 pada 20 Mei 1961 tentang gerakan Pramuka, maka peristiwa ini disebut sebagai Hari permulaan Tahun kerja. Pada 30 Juli 1961 bertempat di Istora Senayan, seluruh tokoh–tokoh kepanduan indonesia menyatakan menggabungkan diri dengan orgnaisasi gerakan Pramuka, dan hari bersejarah ini disebut sebagai Hari Ikrar Gerakan Pramuka. Pada 14 Agustus 1961 dilakukan MAPINAS (Majelis Pimpinan Nasional) yang diketuai oleh Preiden Soekarno, wakil ketua I Sultan Hamengkubuwono XI dan wakil ketua II Brigjen TNI Dr. A. Azis Saleh. Ditandai dengan penyerahan panji-panji pramuka oleh Presiden Soekarno kepada tokoh-tokoh pramuka dihadiri oleh ribuan anggota pramuka unuk memperkenalkan gerakan Pramuka kepada Masyarakat, maka peristiwa ini dikenal sebagai hari lahir Pramuka yang sampai saat ini masih diperingati.
Sumber Informasi: https://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/sejarah-pramuka-di-indonesia
Akhmad Solihin March 30, 2026 CB Blogger Indonesia
Sejarah Kepanduan Pramuka Indonesia
Visiuniversal---Mulai 28 Maret 2026, pemerintah melalui Komdigi memberlakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun (Penggalang & Siaga) sebagai bagian dari upaya perlindungan anak di ruang digital, kebijakan ini mengatur bahwa anak tidak lagi dapat membuat akun baru di berbagai platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan lainnya, bahkan akun yang sudah ada berpotensi dibatasi, platform juga diwajibkan melakukan verifikasi usia pengguna, langkah ini diambil untuk mengurangi risiko paparan konten berbahaya, perundungan siber, eksploitasi, serta dampak kecanduan digital yang semakin nyata pada anak-anak.
TUGAS PEMBINA
Para Pembina Pramuka diharapkan dapat menyampaikan kebijakan ini kepada adik-adik binaannya dengan pendekatan yang bijak dan membangun, penting untuk ditekankan bahwa ini bukan bentuk pelarangan terhadap akses internet secara keseluruhan, melainkan upaya melindungi mereka dari ruang digital yang belum sepenuhnya aman, adik-adik tetap bisa belajar, berkomunikasi, dan berkembang melalui berbagai sarana lain yang lebih sesuai dengan usia mereka, dengan pendampingan yang tepat dari orang dewasa.
Momentum ini justru dapat kita gunakan untuk menguatkan kembali nilai-nilai kepramukaan, mendorong adik-adik untuk lebih aktif dalam kegiatan nyata, berinteraksi langsung dengan teman sebaya, mengasah keterampilan hidup, serta membangun karakter yang tangguh dan mandiri, dunia digital bukan satu-satunya ruang untuk tumbuh, dan Pramuka telah lama menyediakan ruang belajar yang kaya, menyenangkan, dan penuh makna.
Pusdiklatnas mengajak seluruh Pembina Pramuka Indonesia untuk bersama-sama mendukung kebijakan ini dengan memberikan pemahaman yang utuh dan menenangkan, menjaga semangat adik-adik agar tetap positif dan tidak merasa kehilangan, serta mengarahkan mereka untuk melihat sisi baik dari pembatasan ini sebagai kesempatan untuk tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap ketika saatnya tiba untuk memasuki dunia digital dengan bijak.
"Pramuka tidak pernah dibuat terkejut. Ia tahu apa yang harus dilakukan ketika hal yang tidak terduga terjadi" (Baden Powell)
Sumber;
https://inet.detik.com/law-and-policy/d-8417156/mulai-besok-komdigi-batasi-akses-medsos-anak-di-bawah-16-tahun?utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=oa&utm_source=wachannel&utm_content=detikinet
Akhmad Solihin March 30, 2026 CB Blogger Indonesia
AKUN MEDSOS DILARANG, PRAMUKA SIAGA PENGGALANG TETAP RIANG
Visiuniversal-Blog---- sebagaimana kita ketahui Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya. Banyak ditemukan pengkajian dan praktik-praktik metafisika yang mencengangkan dengan berbagai keunikan dan keajaiban yang mengikuti aktivitas metafisika ini, bahkan terkadang bisa sampai berada diluar nalar manusia.
Di dalam filsafat, pertanyaan tentang susunan serta hakekat dari segala yang ada adalah salah satu pertanyaan terpenting. Pertanyaan ini menjadi dasar dari seluruh filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Salah satu filsuf yang mencoba menjawab pertanyaan ini secara sistematik adalah Aristoteles.
Aristoteles adalah murid Plato. Ia menulis buku dengan judul Ta meta ta physika, atau Metafisika, pada 340 sebelum Masehi. Buku ini bukanlah sebuah karya utuh, melainkan kumpulan tulisan pendek dari Aristoteles. Ia menamai kumpulan tulisan tersebut sebagai “filsafat pertama”.
Akhmad Solihin February 27, 2025 CB Blogger Indonesia
Pengertian dan definisi Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya. Kajian mengenai metafisika umumnya berporos pada pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan sifat-sifat yang meliputi realitas yang dikaji. Pemaknaan mengenai metafisika bervariasi dan setiap masa dan filsuf tentu memiliki pandangan yang berbeda. Secara umum topik analisis metafisika meliputi pembahasan mengenai eksistensi, keberadaan aktual dan karakteristik yang menyertai, ruang dan waktu, relasi antarkeberadaan seperti pembahasan mengenai kausalitas, posibilitas, dan pembahasan metafisis lainnya.
Mengingat jangkauan kajian yang dipusatkannya, metafisika menjadi sebuah disiplin yang fundamental dalam kajian filsafat. Sepanjang sejarah kefilsafatan, metafisika menjangkau problem-problem klasik dalam filsafat teoretis. Umumnya kajian metafisika menjadi "batu pijakan" atas struktur gagasan kefilsafatan dan prinsip-prinsip yang lebih kompleks untuk menjelaskan problem lainnya. Sehingga, dalam pemahaman metafisika klasik, metafisika membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar yang jawaban-jawaban atasnya dapat digunakan menjadi dasar bagi pertanyaan yang lebih kompleks.[butuh rujukan] Misalnya: adakah maksud utama dalam beradanya dunia ini? Lalu apakah keberadaannya sebatas keberadaan yang "mengada" atau dependen terhadap keberadaan lainnya?; Apakah tuhan/tuhan-tuhan ada? Lalu, jika ada, apa saja hal-hal yang bisa manusia tahu/tidak tahu tentangnya?; Benarkah terdapat hal semacam intellectus, terutama dalam pembahasan mengenai pembedaan antara problem pemisahan entitas jiwa badan?; Apakah jiwa sesuatu yang nyata, dan apakah ia berkehendak bebas?; Apakah segalanya tetap atau berubah? Apakah terdapat hal atau relasi yang selalu bersifat tetap yang bekerja dalam berbagai fenomena?; dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sejenis.
Objek bahasan metafisika bukan semata-mata hal-hal empiri atau hal-hal yang dapat dijangkau oleh pengamatan individual, melainkan hal-hal atau aspek-aspek yang menjadi dasar realitas itu sendiri. Klaim-klaim atas metode dan objek kajian metafisika telah menjadi problem perenial kefilsafatan.
Pembahasan mengenai metafisika memiliki berbagai subbahasan. Misalnya pembahasan sentral metafisika adalah ontologi, yaitu proses analitis dan penggalian klasifikasi berdasarkan prinsip-prinsip kategori keberadaan dan relasi di antaranya. Bahasan sentral lainnya adalah kosmologi metafisik, yaitu kajian mendalam atas prinsip keberadaan dunia, realitas, asal mula, dan makna keberadaan atasnya.
Sejarah dan Konsep Metafisika
Kata "metafisika" dicatut dari set karya Aristoteles yang terdiri dari 14 kelompok karya tentang problem-problem filosofis. Pada mulanya tidak terdapat nama untuk merujuk kajian kefilsafatan ini, hingga Andronikus dari Rodesia menyusun karya-karya filsafat Aristotelian dengan delapan buku di luar label "Fisika" dinamai t? et? t? f?s??? ? ??a (t met t Physika biblia; buku/karya (yang adalah) setelah/disamping F?s??? ????as?? (Phusike akroasis)).[butuh rujukan] Sehingga timbul istilah "Metafisika" yang, secara turun temurun berbelok maknanya dan dimengerti sebagai "sesuatu/ilmu di balik fisika/kulit terluar (yang menutupi sesuatu)".
Terdapat berbagai pemahaman atas maksud kata Metafisika sebenarnya dan menjadi problem bagi para filsuf dan sejarawan hingga kini. Sehingga makna sebenarnya masih belum jelas, mengingat Arisoteles pun tidak menggunakan istilah tersebut untuk menamai teori-teori metafisikanya. Kata "Metafisika" tidak pernah pun jika pernah ada di masa Aristotelian dipakai oleh Aristoteles sendiri, melainkan sering kali ia rujuk sebagai "filsafat awal".[butuh rujukan]
Akan tetapi, para cendekiawan dan komentator mulai mempertanyakan dan mencari arti intrinsik di balik kepantasan atas kesesuaian nama yang diberikannya. Kegiatan beberapa cendekiawan abad ke-20 turut mengarahkan arti alternatif atas metafisika itu sendiri. Pemahaman-pemahaman abad Renaisans melahirkan ide-ide baru seperti meta-bahasa atau penyangga korpus kefilsafatan dan membuat metafisika dipahami sebagai "ilmu atas dunia di luar physis (f?s??, biasanya diterjemahkan sebagai 'alam')."Kajian physis yang dimaksud umumnya berkenaan dengan hal-hal yang melampaui hal-hal keduniaan yang, secara umum, dapat dipahami sebagai ilmu atas hal-hal imaterial (seperti alam kajian Newton, Einstein, atau Heisenberg). Lain halnya dengan Thomas Aquinas yang merujuk metafisika sebagai ilmu tinggi dari urutan kronologi atau pedagogi tahap studi filsafat. Sehingga ilmu metafisika dipahami sebagai "hal yang dipelajari setelah menguasai ilmu-ilmu yang berurusan dengan hal-hal fisik."[4] Akan tetapi, dari semua konsepsi yang telah disebutkan, tidak ada suatu definisi yang disepakati di lintas ilmu kefilsafatan. Dalam karya Aristoteles, bagian karya yang disebut pasca-Fisika tersebut menggambarkan hal yang "tidak mengalami perubahan."
Sejak abad pascaklasik dan abad pertengahan, studi metafisika telah disebut sebagai disiplin filsafat yang berdiri sendiri. Pada abad pertengahan, studi metafisika diberi nama ?p?pte?a (epopte a; melihat, mencerap, memahami). Di sisi lain, kata sifat metafisis, terutama pada abad-abad pencerahan dan abad XIX, biasanya digunakan sebagai julukan dan kata populer untuk menamai sesuatu hal sebagai hal yang "berbau spekulasi", "tidak ilmiah", "totalitarian", atau "pemahaman tidak empiris".
Penolakan terhadap metafisika
Dalam perkembangannya, terma dan ide mengenai metafisika terus menerus berubah. Beberapa pemikir memulai diskursus dan tanda-tanda kematian-kematian metafisika dengan penolakan dan pembuktian atas kesia-siaan dan ketidakterjangkauannya. David Hume, misalnya, secara keras menyatakan bahwa pengetahuan sejati (genuine knowledge) dibentuk tak lain selain fakta dan rerangkai matematis. Sehingga, terlepas dari keduanya, pengetahuan tersebut salah dan tidak menyatakan realitas.[5] Di lain hal, Immanuel Kant dalam Critique of Pure Reason menyatakan bahwa, tidak seperti Hume yang menolak mentah-mentah pengetahuan selain hal yang empiris dan terukur, terdapat suatu lokus pengetahuan yang disebut sintetis a priori.[6] Menurut Kant, terdapat suatu pengetahuan sejati yang terdiri atas fakta-fakta pengetahuan yang independen, lepas dari pengalaman empiris seperti pengetahuan atas ruang, waktu, dan kausalitas. Klaim Hume pun ditolak dengan pemahaman Kantian bahwa terdapat sesuatu hal yang lepas dari keterjangkauan manusia yang sepenuhnya independen dan asali, sehingga klaim Hume gagal untuk memahami adanya noumenon, esensi yang "ada dalam dirinya sendiri" (an Sich).
Kemudian, penolakan selanjutnya diutarakan oleh pengusung verifikasionisme seperti A. J. Ayer dan Rudolf Carnap. Menimbang pernyataan Hume, menurut verifikasionisme, pernyataan metafisis bukan bernilai benar atau salah, melainkan tak bermakna. Karena suatu hal akan bermakna jika hal tersebut terdapat bukti empiris yang dapat dijangkau dan korespondensi ide dengan realitas.[7]
Perdebatan mengenai status kajian metafisis sebagai bidang ilmu menunjukkan ketiadaannya kesatuan internal dalam pemahaman definitif maupun kontekstual. Akan tetapi argumen mengenai hakikat keberadaan metafisika sebagai bahan kajian tak lepas dari statusnya sebagai bidang ilmu.[butuh rujukan] Mungkin saja tak ada hal semacam metafisika sebagai bidang studi. Atau mungkin, seperti kebanyakan filsuf, pernyataan metafisis tak bernilai salah ataupun benar. Atau sebaliknya, teori metafisis memiliki nilai kebenaran, akan tetapi tak dapat terjangkau oleh lemahnya manusia. Hal-hal tersebut adalah pernyataan-pernyataan umum atas keberadaan metafisika.
Eksistensi dan kesadaran
Representasi kesadaran dari abad ke-17.
Eksistensi, sebagai salah satu sub-kajian ontologi, adalah suatu konsep yang aksiomatik dasar pertama yang tak didasari oleh premis yang lebih sederhana/tak dapat direduksi menjadi premis yang lebih sederhana. Eksistensi tak dapat dilepaskan dari semua kajian pengetahuan dan tak dapat dikenai penolakan atasnya. Pembicaraan atas ketiadaan eksistensi, misalnya, adalah pembicaraan atas eksistensi itu sendiri. Premis eksistensi adalah ada (eksis) membuktikan bahwa konsep tersebut adalah aksioma yang menyatakan bahwa terdapat sesuatu/keberadaan, ketimbang ketiadaan.
Kesadaran, di lain hal, adalah kualitas dan kemampuan menerima dan mengidentifikasi keberadaan yang eksis baik dirinya sendiri maupun di liar dirinya.[10] Dalam sejarah kefilsafatan dan keilmuan secara umum, kesadaran telah didefinisikan, diasosiasikan, dan dipahami sebagai ke-berakal-an, kesadaran, qualia, subjektivitas, kontrol eksekutif pada budi, dan terma lainnya.[10][11] Dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy, kesadaran diabstraksi menjadi pengetahuan, introspeksi (dan segala pengetahuan yang diproduksi dari proses introspeksi itu sendiri, intensionalitas, dan pengalaman atas fenomena.[12]
Formulasi proposisi cartesian cogito ergo sum misalnya, membuktikan bahwa kesadaran adalah hal yang aksiomatik. Hal tersebut karena tidak seorangpun dapat menolak keberadaan pikirannya sendiri, dan di saat yang sama penolakan tersebut menggunakan kesadaran untuk menolak keberadaan pikirannya sendiri. Akan tetapi, Descartes tak mampu untuk menjelaskan dengan jelas mengenai apa itu kesadaran itu sendiri. Beberapa pemikir selanjutnya mendefinisikan konsepsi kesadaran sebagai perseptor atas hal yang ada, sehingga kesadaran memerlukan hal di luar dirinya untuk berfungsi. Sehingga, kesadaran diderivasi oleh/bergantung terhadap eksistensi. Identitas
Konsep identitas adalah relasi tiap-tiap hal yang merujuk pada dirinya sendiri.[13] Dalam artian lain, identitas adalah suatu hal yang membuat sebuah entitas dapat dikenali dan diuraikan dengan set kualitas atau karakteristik yang membedakan dirinya dengan entitas lainnya. Sehingga, menilik prinsip ketidakberbedaan ontologis Leibniz: jika x identik dengan y, maka segala kualitas yang dimiliki x juga dimiliki y.
Hukum identitas pertama Aristotelian menyatakan bahwa untuk mengada, sebuah eksisten mesti memiliki identitas unik. Sebuah eksisten tidak dapat disebut sebagai sebuah keberadaan tanpa mengada sebagai sesuatu. Konsep identitas penting karena menjelaskan bahwa realitas memiliki sifat yang berbatas, sehingga dimungkinkan untuk diketahui.
Referensi
^ a b van Inwagen, Peter; Sullivan, Meghan (2016-01-01). Zalta, Edward N., ed. "Metaphysics" (2016 ed.). Metaphysics Research Lab, Stanford University, The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
^ a b Schmidinger, H. M. (1954). Metaphysik : ein Grundkurs. Kohlhammer. ISBN 3-17-016308-6.
^ Lih. physis dalam Wiktionary.
^ Aquinas, Thomas; Schultz, Janice L.; Synan, Edward A.; Boethius (2001). An exposition of the On the hebdomads of Boethius : Expositio libri Boetii De ebdomadibus. Thomas Aquinas in Translation. V (original scripture). Catholic University of America Press.
^ Hume, David (1948). "132". An Enquiry Concerning Human Understanding.
^ Kant, Immanuel (1985). "B20". Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith. Macmillan Press.
^ Carnap, Rudolf (1935). "The Rejection of Metaphysics". Philosophy and Logical Syntax.
^ Pertanyaan ini merujuk pada Grundfrage der Metaphysik Heidegger, Martin (2000). Einf hrung in die Metaphysik, trans. Gregory Field & Richard Polt. Yale University Press.
^ Dalam hal ini, kata "ada" dimaknai sebagai sesuatu yang mengada secara ontologis. Terdapat berbagai pemahaman atas Ada yang dirujuk dalam filsafat Heideggerian. Untuk lebih lengkap, lihat pula berbagai problem fundamental dalam fenomenologi. Lihat pula Klostermann, Vittorio (ed.). Heidegger Gesamtausgabe. " interpreted the ancient philosophy and understands the being of beings, the reality of the real, as a presence that reality constituted of reality, the ideas [are] according to Plato himself the true reality."
^ a b van Gulick, Robert (2004-06-24). "Consciousness". The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
^ William., Farthing, G. (1992). The Psychology of Consciousness. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall. ISBN 978-0-13-728668-3.
^ Lormand, Eric (1996). "Consciousness". Di Craig, Edward. Routledge Encyclopedia of Philosophy.
^ Noonan, Harold; Curtis, Ben (2004-12-15). "Identity". The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Metafisika
PENGERTIAN METAFISIKA SEBAGAI CABANG FILSAFAT
VISIUNIVERSAL-Blog---Gerakan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan Kementrian pendidikan Dasar dan menengah Jumat 27 Desember 2024.
Acara ini diselenggarakan resmi kementrian Dikdasmen langsung dengan dilakukan juga melalui kanal Youtube Acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik, termasuk:
🎶 Pengenalan:
* Album Lagu Anak dan Senam Anak Indonesia Hebat
🥳 Penampilan Hiburan:
* Drama musikal Kemah Anak Indonesia Hebat bersama Dwiki Dharmawan Light Orchestra
🌟 Penampilan Spesial:
* Mazaya & Sogi Indra Duaja
Yuk, saksikan acara inspiratif ini bersama seluruh keluarga!
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan sumberdaya manusia.
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan gender. SDM unggul ini harus memiliki delapan karakter utama: religius, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, disiplin, mandiri, dan bermanfaat. Karakter-karakter tersebut hanya dapat terbentuk melalui pembiasaan positif yang berkelanjutan hingga akhirnya menjadi budaya. Dengan fondasi karakter yang kuat, generasi masa depan diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, unggul, dan mampu berkontribusi besar bagi bangsa.
Sebagai langkah strategis, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meluncurkan program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pembiasaan yang sederhana namun berdampak besar. Tujuh kebiasaan tersebut meliputi: Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Gemar Belajar, Makan Sehat dan Bergizi, Bermasyarakat, serta Tidur Cepat. Setiap kebiasaan dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga untuk membentuk mental dan moral yang tangguh.
Melalui gerakan ini, anak-anak Indonesia diajak membangun kebiasaan positif sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan menjadi pondasi kokoh bagi pembentukan karakter yang unggul, bermanfaat bagi diri sendiri, serta menjadi modal penting dalam membangun masa depan bangsa. Mari bersama kita wujudkan generasi sehat, cerdas, dan berkarakter demi Indonesia yang lebih baik!
Peluncuran gerakan 7 kebiasaan Anak Hebat Indonesia
1.Bangun Pagi
2.Rajin Beribadah
3.Rajin Berolahraga
4.Makan Makanan Sehat
5.Giat Belajar
6.Bermasyarakat
7.Tidur Lebih Cepat
---
Ikuti informasi pendidikan melalui kanal berikut:
Laman: kemdikbud.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
GERAKAN TUJUH KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT TAHUN 2025
Tips Cara Agar Anak Lebih Menyukai Matematika
Pengertian Generasi Millennial
Visiuniversal-Blog. Generasi millennial merupakan bagian dari perkembangan dan perumbuhan yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sehingga menimbulkan perubahan yang berjalan sangat cepat.
Istilah generasi millennial sendiri ditemukan oleh seorang peneliti ahli demografis bernama Willian Straus dan Neil Howe.Generasi millennial dikenal juga dengan sebutan generasi Y yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Generasi yang muncul setelah generasi ini adalah generasi Z.
PENGERTIAN DAN HAKIKAT GENERASI MILENIAL
Visiuniversal-Blog---Sebuah aplikasi baru yang dikembangkan untuk membantu ASN/PNS dalam Pengembangan berkarir yang disebut dengan nama Si Jule.
SiJule adalah singkatan dari Sistem Jakarta U-Learning. Ini adalah aplikasi pembelajaran daring bertujuan untuk meningkatkan kompetensi seluruh ASN / NON ASN dan setelah pembelajaran secara daring akan mendapatkan sertifikat.
Aplikasi SiJule memiliki beberapa fitur utama, yaitu:
• Pelatihan daring
• E-learning:
• Komunitas:
Aplikasi SiJule dapat diakses melalui perangkat komputer maupun seluler. Aplikasi ini dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store dan App Store.
LINK RESMI APLIKASI SIJULE :
https://sijule-bpsdm.jakarta.go.id/
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.bpsdm.dki.sijule
Akhmad Solihin January 12, 2024 CB Blogger Indonesia
APLIKASI SIJULE
Visiuniversal-blogspot.com. Etika kerja dan etos kerja adalah dua konsep yang sering digunakan dalam konteks profesional, tetapi memiliki perbedaan makna. Secara umum, etika kerja merujuk pada prinsip-prinsip moral yang menjadi pedoman perilaku seseorang dalam bekerja, seperti kejujuran, tanggung jawab, integritas, dan keadilan. Sedangkan etos kerja merujuk kepada sikap, nilai, dan kebiasaan yang menunjukkan komitmen, dedikasi, dan semangat seseorang dalam bekerja, seperti kerja keras, disiplin, loyalitas, dan produktivitas.
Sony Keraf (1991) : Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku.
Dengan demikian, etika kerja lebih berkaitan dengan aspek normatif dan ideal dari pekerjaan, yaitu apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh pekerja. Etos kerja lebih berkaitan dengan aspek kinerja dan motivasi dari pekerjaan, yaitu bagaimana pekerja melakukan pekerjaannya dengan baik dan efektif. Keduanya saling berhubungan dan mempengaruhi kualitas dan hasil dari pekerjaan. Berikut adalah beberapa contoh perbedaan antara etika kerja dan etos kerja:
1. Seorang pekerja yang memiliki etika kerja tinggi akan menghindari tindakan yang merugikan perusahaan, pelanggan, atau rekan kerja, seperti korupsi, penipuan, atau pencurian. Seorang pekerja yang memiliki etos kerja tinggi akan berusaha untuk memberikan kontribusi maksimal bagi perusahaan, pelanggan, atau rekan kerja, seperti inovasi, kreativitas, atau kerjasama.
2. Seorang pekerja yang memiliki etika kerja tinggi akan menghormati aturan, prosedur, dan kode etik yang berlaku di perusahaan. Seorang pekerja yang memiliki etos kerja tinggi akan mengikuti aturan, prosedur, dan kode etik tersebut dengan penuh tanggung jawab dan disiplin.
3. Seorang pekerja yang memiliki etika kerja tinggi akan menjaga integritas dan kepercayaan diri dalam bekerja. Seorang pekerja yang memiliki etos kerja tinggi akan meningkatkan kompetensi dan keterampilan diri dalam bekerja.
Demikian tentang perbedaan antara etika kerja dan etos kerja yang dapat admint https://visiuniversal.blogspot.com/ yang dapat Bagikan. Semoga bermanfaat.
PERBEDAAN ANTARA ETIKA KERJA DAN ETOS KERJA
Visiuniversal----Menjadi sangat penting untuk memilih jalur pendidikan yang tepat dan sesuai dengan tujuan dan cita-cita kita yang sebenar-benarnya.
Menyimak judul tulisan diatas tentunya menimbulkan beberapa pertanyaam besar, MENGAPA Pendidikan yang dianggap salah satu faktor penting dalam menunjang kesuksesan seseorang, justru menjadi jalan buntu hingga menjadi sebab suramnya masa depan seseorang.
Berharap dengan memiliki pendidikan tinggi akan dapat memiliki karir yang cemerlang, memiliki kedudukan yang baik dalam jabatan yang mentereng. Tetapi kenyataannya banyak hasil pendidikan yang hanya benilai selembar kertas ijazah, yang tidak laku walau diobral dengan siap di upah sangat murah.
Sukses Tidak Ditentukan Oleh Ijazah
Jangan khawatir tak mampu sekolah tinggi, jangan merasa rendah diri bila tak masuk sekolah pavorit, jangan takut bersaing karena beda ijazah. Masa depan mu cerah dan suram tak di tentukan oleh ijazah. Tengoklah orang tua kita dahulu. Ada yang cuma petani tanpa ijazah tapi mampu menghidupi keluarganya, ada banyak penjual ikan dengan rutinitas berteman air dan kotoran, jauh dari wewangian mampu memiliki rumah bertingkat juga mobil mewah.
Di sekililingmu banyak yang bisa menjadi pelajaran. Bila saat ini dirimu belum kuliah, belum memiliki ijazah, hanya dengan bekerja kamu bisa membiayai pendidikanmu. Jangan pula telat berpikir, seakan-akan sekolah dan ijazah adalah jaminan punya karir cemerlang. Tanpa Ijazah tinggi bukan berarti masa depanmu suram, ijazah bukan pertanda memiliki ilmu dan ahlak tinggi, ijazah hanyalah sertifikat, bukan untuk di sombongkan. Banyak tuan tanah memiliki sertifikat tanah tapi tak punya sertifikat sekolah. Ijazah bukan kumpulan uang yang bisa membuatmu jadi orang kaya. Ijazah hanya sertifikat pertanda bahwa kamu pernah bersekolah, dan ilmu yang di miliki hanya sekedar teori. Sedangkan sukses adalah kumpulan pengalaman yang hanya bisa didapat saat berjuang
Banyak orang sukses harus pindah profesi. Banyak petani biasa lebih pintar dari sarjana pertanian. Banyak orang pintar jadi bawahan orang bodoh. Banyak lulusan kuliah jadi pengangguran, pedagang keliling, kuli bangunan dsb. Bahkan masih banyak lagi yang memiliki ijazah di jurusan tertentu tapi malah sukses berprofesi bukan di bidang latar belakang ilmu pendidikanya. Jangan berharap dengan mengandalkan ijazah bisa di terima jadi karyawan dan PNS juga memiliki jabatan tinggi. Jangan pula takut karena sekolah di pondok pesantren, anda tidak bisa jadi apa-apa. Bila otaknya sudah berpikir setelah sekolah dan kuliah akan kerja dimana, mungkin inilah keterlambatan berpikir, telat mikir. Di bawah matahari ini, ada banyak hal yang bisa di olah, jadi media untuk meraih kesuksesan.
Pengalaman Akan Membentuk Hidup
Untuk mu yang masih bertanya-tanya bisakah sukses tanpa ijasah, sementara diluar sana banyak saingan tenaga kerja dari orang lain yang punya Ijazah. Biarkan saja orang bangga memiliki ijazah tinggi, tak perlu cemas tidak di terima jadi PNS, karyawan swasta. Toh rejeki mu bukan di tentukan oleh ijazah, langkahmu tak akan mati karena tak punya ijazah tinggi. Kemauan dan semangat juangmu yang akan menjadi penentu masa depanmu, sukses atau tidak semua di tangan Allah. Pengalaman-pengalaman akan membentuk dirimu, hidupmu. Masih ada waktu untuk berbenah, masih ada waktu untuk meraih jenjang karir walau tak harus memiliki jabatan. Jangan iri dengan karyawan berpenampilan necis dan bersih, gaji mereka belum tentu seperti penampilannya. Jangan terlalu memandang tinggi pada mereka berpenghasilan tinggi, punya jabatan tinggi, toh belum tentu sedekah mereka tinggi. Banggalah dengan diri sendiri, menjadi orang jujur itu juga profesi tinggi di mata Allah, karena jujur sudah menjadi barang langka. Syukuri setiap detik kehidupanmu, penghasilan rendah atau tinggi tak menghalangi kita untuk bermanfaat bagi orang banyak, agar pada saatnya kita mampu membeli ijazah tertinggi, yaitu Husnul Khotimah. Teruslah Bergerak Teruslah Berkarya
sebuah Opini Untuk Berbagi
Renungan
Visiuniversal Pendidikan
PENDIDIKAN MEMBUNUH MU

Motivasi sangat
penting dalam menentukan produktivitas kerja seseorang, baik kerja perorangan
maupun kerja kelompok. Menurut Reksohadiprodjo (1991:256), “motivasi adalah
keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk
melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan”, motivasi
dalam suatu organisasi mencakup dua kekuatan: internal dan eksternal. Anoraga
(2001:34), mengemukakan, “dalam pengertian umum, motivasi dikatakan sebagai
kebutuhan yang mendorong perbuatan ke arah suatu tujuan tertentu”. Sementara
itu Bernard Berelson dan Gary A. Stainer (Sinungan, 2003:134), menyatakan
“motivasi adalah keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan
energi, mendorong kegiatan atau gerakan dan mengarah atau menyalurkan perilaku
ke arah mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan atau mengurangi ketidak
seimbangan”. Oleh karena itu motivasi dapat diartikan sebagai bagian integral
dari hubungan/industrial dalam rangka proses pembinaan, pengembangan dan
pengarahan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan.
Munandar (2001:323), menyimpulkan
bahwa ”motivasi adalah suatu proses di mana kebutuhan-kebutuhan mendorong
seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah ke tercapainya
tujuan tertentu”. Robin (2001:187), mengemukakan unjuk kerja (performance) adalah hasil dari interaksi
antara motivasi kerja, kemampuan (abilities)
dan peluang (opportunities), dengan
perkataan lain unjuk kerja adalah fungsi
dari motivasi kerja kali kemampuan kali peluang. Bila motivasi rendah, maka
unjuk kerja/produktifiasnya akan rendah pula meskipun kemampuannya ada dan
baik, serta peluangnya pun tersedia.
Motivasi kerja
menurut Anoraga (2001:35), “sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja”. Sementara itu
Wexley & Yukl (As’ad,2002), memberikan batasan mengenai motivasi sebagai “the
process by which behavior is energized and directed”. Bahwa apa yang
dikemukakan Wexley dan Yukl tersebut “merupakan pemberian dan penimbulan
motif”. Jadi Motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau
dorongan kerja. Oleh sebab itu motivasi kerja dalam psikologi karya biasa
disebut pendorong semangat kerja. Kuat dan lemahnya motivasi kerja seseorang
ikut menentukan besar kecilnya prestasi.
Dalam hubungan dengan perilaku organisasi maka motif-motif yang relevan menurut Wexley & Yukl (1977:99) mengemukakan beberapa kebutuhan, antara lain: kebutuhan kelangsungn hidup, kebutuhan keamanan, kebutuhan berkelompok, kebutuhan penghargaan, kebutuhan kebebasan, dan kebutuhan kecakapan dan keberhasilan. Namun hasil penelitian Mc Clelland tahun 1961 dan para psikolog lainnya (Wexley & Yukl, 1977:101) menunjukkan bahwa:
… seseorang yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap keberhasilan lebih menyukai suatu pekerjaan yang memiliki ciri-ciri: (1) pelaksanaan kerjanya banyak ditentukan oleh usaha serta kemampuan yang dimiliki dirinya dari pada faktor-faktor kebetulan di luar pengendalian dirinya atau atas kerja sama, (2) pekerjaan serta tugas-tugas cukup sulit dari pada yang mudah atau tidak mungkin, (3) terdapat umpan balik nyata yang sering tentang seberapa baik ia melaksanakannya.
Pinder
(1997:11), sepakat dengan beberapa ahli lain seperti M.R. John; Locke, Shaw,
Saari, dan Latham; Steers dan Porter; dan Vroom bahwa: “Work motivation is a
set of energetic forces that originate both within as well as beyond an
individual’s being, to initiate work-related behavior, and to determine its
form, direction, intensity, and duration”.
Reksohadiprodjo (1991:256), “motivasi
merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan
setiap anggota organisasi berbeda”. Setiap anggota suatu organisasi ‘unik’
baik biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang
berbeda pula.
Para
ahli psikologi menyetujui bahwa motivasi dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok,
yaitu: (a) motivasi fisiologis, yang merupakan motivasi alamiah seperti lapar,
dan haus, (b) motivasi psikologis, yang dapat dikelompokkan: motivasi kasih
sayang, motivasi mempertahankan diri, motivasi memperkuat diri.
Teori
tata tingkat kebutuhan dari Maslow (Munandar, 2001:326), merupakan teori
motivasi yang sangat dikenal secara luas. Maslow berpendapat bahwa kondisi
manusia berada dalam kondisi mengejar yang bersinambungan. Artinya, jika satu kebutuhan telah terpenuhi,
diikuti oleh kebutuhan berikutnya. Proses berkeinginan ini tanpa henti sejak manusia lahir
sampai meninggal. Kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud adalah: kebutuhan faali (physiological), rasa aman, sosial, harga
diri, dan aktualisasi diri.
Motivasi kerja adalah suatu dorongan secara psikologis kepada seseorang yang menentukan arah dari perilaku (direction of behavior) dalam organisasi dan tingkat usaha (level of effort) serta gigih dalam menghadapi suatu masalah (level of persistence).
Motivasi kerja adalah pendorong dalam diri seseorang untuk berperilaku dan bekerja dengan giat sesuai dengan tugas dan kewajiban yang telah diberikan kepadanya.
Pengertian Motivasi Kerja Menurut Para Ahli
Pengertian motivasi kerja menurut para ahli yang dapat kamu ketahui adalah sebagai berikut:
1. Uno (2012)
Motivasi kerja adalah kekuatan dalam diri orang yang akan memengaruhi arah, intensitas, dan ketekunan perilaku seseorang untuk melakukan pekerjaannya.
2. Wibowo (2014)
Motivasi kerja adalah proses psikologis yang membangkitkan, mengarahkan, dan tekun dalam melakukan tindakan yang diarahkan untuk mencapai tujuan.
3. Miftahun dan Sugiyanto (2010)
Motivasi kerja adalah suatu usaha yang dapat menimbulkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang sesuai dengan lingkungan kerjanya.
4. Robbins dan Judge (2013)
Motivasi kerja adalah kesediaan untuk mengeluarkan upaya ke arah tujuan-tujuan dalam suatu organisasi. Hal ini tentu dikondisikan oleh kemampuan upaya tersebut untuk memenuhi suatu kebutuhan individu.
5. Pinder (2013)
Motivasi kerja adalah kekuatan baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri seseorang yang mendorongnya untuk memulai berperilaku kerja, sesuai dengan arah, intensitas, dan dalam jangka waktu tertentu.
Salah satu indikator motivasi kerja adalah kemauan.
Unsur-Unsur Motivasi Kerja
Menurut Sagir dalam Siswanto Sastrohadiwiryo (2003) motivasi kerja memiliki beberapa unsur-unsur. Unsur-unsur tersebut antara lain:
kinerja
penghargaan
tantangan
tanggung jawab
pengembangan
ketertiban
kesempatan
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi motivasi kerja, antara lain:
Pencapaian dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan berdasarkan pada tujuan dan sasarannya
Penghargaan terhadap pencapaian tugas dan sasaran
Sifat dan ruang lingkup pekerjaan
Adanya peningkatan tanggung jawab
Supervisi
Hubungan antar perseorangan
Kondisi kerja
Gaji
Status
Keamanan kerja
Faktor di atas tentu akan menentukan tinggi rendahnya motivasi kerja setiap karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan. Faktor lain yang dapat memengaruhi motivasi kerja seperti upah yang sesuai dengan kinerja dan jaminan hari tua. Apabila kedua hal tadi terdapat di perusahaan, hal ini akan meningkatkan motivasi kerja karyawannya juga.
Baca Juga: Manajemen SDM: Pengertian, Tujuan, dan Fungsi
8 Indikator Motivasi Kerja
Berikut ini indikator motivasi kerja yang dapat memengaruhi kinerja karyawan secara langsung, antara lain:
1. Daya Pendorong
Daya pendorong adalah naluri untuk menggerakkan seseorang agar mampu berperilaku secara tepat dalam mencapai tujuan. Cara yang digunakan oleh setiap individu pun pasti berbeda-beda sesuai dengan latar belakang kebudayaan dan kebiasaan.
2. Kemauan
Kemauan adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena pengaruh dari luar, seperti orang lain atau lingkungan. Kemauan ini merupakan bentuk reaksi akibat adanya tawaran dari pihak lain.
3. Kerelaan
Kerelaan adalah sebuah bentuk persetujuan atas permintaan dari orang lain. Kebiasaan ini sering terjadi di dalam perusahaan ketika terdapat karyawan yang ingin membantu temannya bekerja padahal seharusnya bukan dia yang mengerjakan pekerjaan tersebut.
4. Membentuk Keahlian
Membentuk keahlian menjadi suatu bentuk proses dari pembentukan. Perlu proses untuk membentuk keahlian agar mendapatkan kemampuan dalam suatu bidang ilmu tertentu. Bila seseorang sudah memiliki keahlian, sebaiknya keahlian itu terus diasah agar semakin kuat dan terampil.
5. Membentuk Keterampilan
Membentuk keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan berbagai pola tingkah laku yang kompleks, tetapi tetap tersusun rapi.
Indikator ini tidak hanya mencakup gerakan motorik setiap individu saja, tetapi juga dari sisi mental yang dapat dicapai atau tidak.
6. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah akibat lebih lanjut dari pelaksanaan kewajiban yang diemban oleh setiap karyawan.
7. Kewajiban
Kewajiban adalah sesuatu hal yang wajib dilaksanakan oleh setiap karyawan. Kewajiban ini harus dikerjakan dengan optimal.
8. Tujuan
Tujuan menjadi tahap akhir yang ingin dicapai oleh perusahaan agar dapat memberikan hasil kerja terbaik.
Baca Juga: Mengenal Tujuan dan Metode Pengembangan SDM bagi Perusahaan
Cara Meningkatkan Motivasi Kerja Bagi Karyawan
Di bawah ini, kamu akan menemukan cara meningkatkan motivasi kerja bagi karyawan, antara lain:
1. Lingkungan Kerja Aman dan Nyaman
Cara untuk meningkatkan motivasi kerja ini dengan membuat ruangan kerja tempat karyawan beraktivitas sehari-hari terasa nyaman.
Berikanlah beberapa fasilitas yang dapat digunakan oleh karyawan seperti coffee maker atau ruang santai untuk beristirahat sejenak. Selain itu, pastikan ruang kerja mereka memiliki sistem pencahayaan, sirkulasi udara, dan keamanan yang mendukung.
2. Memberikan Pelatihan untuk Pengembangan Diri
Supaya karyawan dapat bekerja secara optimal untuk mencapai tujuan, perusahaan pun dapat memberikan pelatihan yang dapat membantu mereka untuk mengembangkan kemampuannya.
Berikanlah pelatihan yang sesuai dengan skill atau ketertarikan mereka akan sesuatu agar potensi di dalam diri mereka dapat berkembang.
3. Mengadakan Outing
Untuk kembali membangkitkan motivasi kerja karyawan yang setiap hari bekerja sehingga perusahaan dapat mengadakan kegiatan outing. Cara ini dapat membuat karyawan refreshing sejenak dan dapat membantu karyawan untuk saling mengenal sesama rekan kerjanya.
4. Memberikan Upah Sesuai Beban Kerja dan Keahlian
Karyawan akan semakin termotivasi bila mereka mendapatkan upah yang sesuai dengan beban kerja dan keahlian yang mereka miliki.
5. Memberikan Jenjang Karier yang Jelas
Selain pemberian upah yang sesuai dengan beban kerja dan keahlian, banyak karyawan yang memiliki motivasi kerja dari adanya jenjang karier yang jelas. Setiap karyawan di semua perusahaan tentu menginginkan jabatan seiring dengan perkembangan potensi yang mereka miliki dan kinerja yang semakin baik dengan ditunjukkan melalui suatu prestasi.
Dengan adanya jenjang karier yang jelas, hal ini membuat karyawan semakin semangat dalam bekerja.
6. Memberikan Apresiasi
Memberikan apresiasi kepada karyawan yang telah berhasil melakukan pekerjaan yang berat dan sulit agar mereka merasa dihargai serta termotivasi untuk memberikan usaha lebih demi memajukan dan mencapai tujuan perusahaan.
7. Berikan Perhatian pada Karyawan
Untuk membangun motivasi kerja bagi setiap karyawan, lebih baik seorang atasan memberikan perhatian untuk karyawannya. Tingkatan kepedulian dan perhatian kepada karyawan sebaiknya masih dalam batas yang wajar juga.
Baca Juga: Rekrutmen adalah: Pengertian, Tujuan, dan Proses
Contoh Motivasi Kerja Saat Interview Kerja
Tak sedikit orang yang kebingungan untuk menjawab motivasi kerja di saat interview kerja. Alasan recruiter menanyakan motivasi kerja ini agar recruiter mengetahui lebih banyak mengenai kandidat yang sedang mereka interview. Nah, berikut ini beberapa contoh motivasi kerja yang bisa kamu sampaikan saat interview, yaitu:
1. Jawaban yang Realistis
Jawaban yang realistis saat interview haruslah jujur dan tidak berorientasi pada uang. Dengan begitu, perusahaan bisa melihat kandidatnya memang ingin bergabung untuk tujuan mengembangkan karir di perusahaan tersebut.
Kamu bisa menjawab pertanyaan recruiter dengan kalimat berikut ini:
“Selain untuk mendapatkan pekerjaan baru, motivasi saya melamar kerja di perusahaan ini adalah ingin memberikan kontribusi yang positif terhadap perusahaan. Saya juga ingin menyalurkan dan mengembangkan skill dan pengetahuan yang saya miliki.”
2. Jawaban Optimistis
Selain percaya diri dan jujur, kamu bisa memberikan jawaban motivasi kerja yang optimis.
Kamu bisa menjawab pertanyaan recruiter dengan optimistis, misalnya:
“Saya ingin menjalin relasi dengan orang baru dan membantu rekan kerja untuk mencapai target dan tujuan perusahaan.”
3. Mengaitkan dengan Pengalaman
Pada saat interview kerja, kamu bisa mengaitkan jawabanmu dengan pengalaman yang sudah kamu miliki.
Berikut cara menjawab pertanyaan berdasarkan pengalaman yang kamu miliki:
“Sebagai seorang marketing, saya terbiasa termotivasi oleh proyek yang kreatif, kerja sama tim, dan mampu berkomunikasi dengan klien. Oleh karena itu, saya ingin menerapkan dari hasil yang sebelumnya dan mengembangkannya di perusahaan ini.”
4. Jawaban Relevan
Menjawab pertanyaan recruiter dengan jawaban yang relevan akan menunjukkan bahwa kamu adalah karyawan yang bisa diandalkan.
Berikut contoh memberikan jawaban yang relevan:
“Saya termotivasi untuk meningkatkan sales di perusahaan ini. Hal ini karena dengan sales yang tinggi, perusahaan bisa meraup untung dan bisa mensejahterakan karyawannya.”
Baca Juga: Penilaian Kinerja Karyawan: Pengertian, Indikator, & Contoh
10 Kata-Kata Motivasi Kerja dari Para Tokoh Populer
Hampir setiap tokoh terkenal memiliki cerita kehidupannya dalam meraih kesuksesan. Mereka juga pernah berada di titik terendah dalam hidupnya dan mereka pun mampu bangkit dan berjuang untuk menggapai cita-citanya. Berikut ini kata-kata motivasi kerja dari para tokoh populer yang bisa kamu jadikan motivasi kerjamu juga, yaitu:
"Sukses bukanlah suatu kebetulan, ia terbentuk dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting adalah cinta akan hal yang sedang atau ingin kamu lakukan." (Pele)
"Setiap orang pernah gagal, habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda." (Dahlan Iskan)
"Jangan menabung dari yang tersisa, tapi habiskan yang tersisa setelah menabungnya." (Warren Buffet)
"Jadilah 'orang kecil' yang berpikir besar. Jangan jadi 'orang besar' yang berpikir kecil atau sempit." (Andrie Wongso)
"Ingat, setelah gagal harus terus melangkah dan jangan pernah berhenti karena kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita berhenti." (Bob Sadino)
"Tidak perlu takut gagal, bekerjalah semaksimal mungkin dan percayalah bahwa semua jerih payahmu akan diperhitungkan oleh Tuhan." (Merry Riana)
"Kapasitas masa depanmu bergantung pada buku yang kamu baca dan dengan orang yang ajak bergaul." (Bong Chandra)
"Ada uang enggak boleh sombong, enggak punya uang juga enggak boleh nyolong. Enggak banyak uang juga jangan suka bohong." (Jusuf Hamka)
"Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu, anak muda menawarkan masa depan." (Anies Baswedan)
"Janganlah kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu kepada Allah." (Ibnu Atha'illah)
Kesimpulan
Dalam suatu perusahaan sebaiknya terdapat motivasi kerja untuk para karyawannya. Motivasi kerja ini dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Turunnya semangat kerja seorang karyawan merupakan hal yang wajar dan normal. Namun bukan tidak mungkin, dengan memahami motivasi kerja akan membantu performa dan kinerja karyawan ke depannya.
Referensi selanjutnya:
Akhmad Solihin August 19, 2023 CB Blogger Indonesia











