Visiuniversal--- Dalam Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025. Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 memperkenalkan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (PPM) sebagai penguatan kurikulum (K13 dan Merdeka), fokusnya pada pemahaman konsep holistik (bukan hafalan), pengembangan berpikir kritis, refleksi, dan penerapan bermakna, dengan pilar Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan, serta didukung praktik pedagogis, lingkungan kondusif, teknologi, dan kemitraan untuk menciptakan lulusan yang kompeten dan berkarakter.
Prinsip Utama Pembelajaran Mendalam:
Berkesadaran: Menciptakan suasana belajar yang memuliakan, melibatkan olah pikir, hati, rasa, dan raga.
Bermakna: Peserta didik memahami konsep secara menyeluruh dan dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Menggembirakan: Pengalaman belajar yang menyenangkan dan aktif.
Fokus Pengembangan:
Keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan kemandirian.
Pengembangan karakter, kesehatan, kewargaan, keimanan, dan ketakwaan.
Komponen Pendukung:
Praktik Pedagogis: Model pembelajaran inovatif (seperti PjBL, PBL, Discovery Learning) yang berpusat pada siswa.
Lingkungan Pembelajaran: Suasana yang suportif, kolaboratif, dan memanfaatkan teknologi.
Pemanfaatan Teknologi Digital: Mengintegrasikan teknologi untuk memperkaya pengalaman belajar.
Kemitraan: Kerjasama antara sekolah, orang tua, dan komunitas.
Implikasi bagi Satuan Pendidikan:
Fleksibilitas: Berlaku untuk sekolah yang masih menggunakan Kurikulum 2013 (K13) maupun Kurikulum Merdeka.
Transformasi Peran Guru: Dari mengajar menjadi memfasilitasi pemahaman konsep.
Penguatan Karakter & Keterampilan Abad 21: Menjawab tantangan zaman, termasuk pengenalan mata pelajaran pilihan seperti Koding & Kecerdasan Artifisial.
Baca juga : Antara Deep Learning, Machine Learning dan AI
Pengertian Pembelajaran Mendalam Depplearning
Pembelajaran Mendalam Definisi Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu
Deep Learning atau pembelajaran mendalam merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam dalam cakupan materi yang lebih sempit. Siswa didorong untuk secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran hingga memahami topik melalui proses “penjelajahan” lebih dalam dari topik tersebut.
Pembelajaran mendalam dilatarbelakangi karena perubahan masa depan yang sulit diprediksi : permasalahan mutu pendidikan yaitu literasi, numerasi, kemampuan HOTs (High Order Thinking Skills) peserta didik Indonesia yang rendah, ketimpangan mutu pendidikan, Bonus Demografi 2035 dan visi Indonesia Emas 2045.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjelaskan :
“Kami sekarang mulai melakukan pengkajian terkait dengan penerapan pendekatan Deep Learning dan sudah selesai. Tentu saja setelah nantinya kami terbitkan peraturan menterinya, kami akan melakukan pelatihan-pelatihan untuk para guru terkait penerapan Deep Learning”
Menurut Abdul Mu’ti, pendekatan pembelajaran Deep Learning dapat tercapai melalui 3 elemen utama, yakni Meaningful Learning, Mindful Learning, dan Joyful Learning.
1. Meaningful Learning
Proses pembelajaran dimana siswa merasa apa yang mereka pelajari memiliki makna dan relevansi dalam kehidupan mereka. Siswa mampu mengaitkan konsep baru yang diajarkan dengan konsep-konsep yang mereka pahami sebelumnya sehingga lebih bermakna bagi siswa.
Contoh: Tidak hanya mempelajari rumus matematika, namun juga mempelajari penerapan dan penggunaannya seperti contohnya mengelola anggaran atau menghitung bunga tabungan.
2. Mindful Learning
Dalam teori pendidikan dikenal sebagai metakognisi, dimana siswa diajak untuk memiliki kesadaran penuh, fokus, dan terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang sedang ia jalani.
Teknik mindfulness juga dapat diterapkan melalui kegiatan latihan pernapasan dan refleksi pribadi sebelum atau sesudah belajar. Guru juga dapat membiasakan siswa membuat kesimpulan pembelajaran di akhir sesi belajar sebagai proses refleksi.
3. Joyful Learning
Bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan dan positif dengan pengalaman belajar interaktif, menantang dan penuh rasa ingin tahu. Siswa diharapkan merasa tertarik dan menikmati proses belajar sehingga mudah menyerap informasi dan mempertahankan hasil belajar.
Metode yang digunakan melibatkan permainan edukatif, penggunaan media kreatif, hingga diskusi kelompok yang dinamis sehingga merangsang motivasi dan kreatifitas siswa dalam menemukan solusi.
Ketiga pendekatan diatas dilakukan melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika) dan olahraga (kinestetik) secara holistik dan terpadu yang mana dengan kata lain, pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan materi akademik namun juga perkembangan karakter dan kemampuan fisik.
Pembelajaran mendalam yang lebih humanis ini diharapkaan dapat mengembangkan 8 dimensi profil lulusan yang sesuai tuntutan zaman dan kebutuhan masa depan yaitu keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Implementasi Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam ini memerlukan kerjasama dan sinergi antara berbagai elemen pendidikan diantaranya guru, siswa, wali murid, dan lingkungan sekolah. Beberapa langkah yang dapat diterapkan adalah sebagai berikut:
- Sosialisasi konsep Pembelajaran Mendalam kepada seluruh pihak terkait
- Pelatihan guru untuk penerapan dalam KBM
- Penyediaan infrastruktur pendukung yang memadai
- Integrasi teknologi digital dalam proses pembelajaran
- Monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas implementasi pembelajaran mendalam di sekolah
Jadi apakah sekolah dan satuan pendidikan anda sudah siap menerapkan Pembelajaran Mendalam ?
Pastikan sekolah Anda siap dalam infrastruktur pendukung dan teknologi digital yang mendukung proses pembelajaran di kelas, sesuai dengan kebutuhan siswa dan guru, bahkan tetap dapat beroperasi walau tanpa adanya internet.
Referensi:
Sumber relevan Seputar Deep Learning:
https://www.sman1montong.sch.id/artikel/detail/989153/pembelajaran-deep-learning-yang-kontekstual-mindful-meaningful-dan-joyful/ (Diakses pada 12 Januari 2025)
https://www.youtube.com/watch?v=KnIynokRfd4 (Diakses pada 10 Januari 2025)
https://pendidikan-sains.fmipa.unesa.ac.id/post/pembelajaran-mindful-meaningful-dan-joyful-dan-integrasinya-di-ruang-kelas-dan-sekolah (Diakses pada 13 Januari 2025)
Seputar Latar Belakang Deep Learning:
https://www.melintas.id/pendidikan/345490311/info-terkini-paparan-kemendikdasmen-tentang-deep-learningpembelajaran-mendalampm-latar-belakang-definisi-8-dimensi-profil-lulusan (Diakses pada 10 Januari 2025)
Seputar Raker Menteri:
https://www.youtube.com/watch?v=8lpIOqP7QiI (Diakses pada 13 Januari 2025)
Seputar 8 dimensi profil lulusan dalam Deep Learning dan penerapan di sekolah:
https://www.melintas.id/pendidikan/345492136/8-dimensi-profil-lulusan-dalam-pembelajaran-mendalam-deer-learning-apakah-sekolah-anda-sudah-siap (Diakses pada 13 Januari 2025)
Seputar keputusan Mendikdasmen
https://tirto.id/mendikdasmen-akan-terapkan-deep-learning-di-kurikulum-berlaku-g65C (Diakses pada 10 Januari 2025)
Penyesuaian Intrakurikuler dengan Pendekatan Pembelaran Mendalam
Visiuniversal--- Pendekatan Pembelajaran Mendalam Depp Learning Dalam Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025.
Akhmad Solihin August 04, 2025 CB Blogger Indonesia
Pendekatan Pembelajaran Mendalam Depp Learning
Visiuniversal-blog---Antara Deep Learning, Machine Learning dan AI dalam konteks pembelajaran di sekolah. Deep learning mungkin terdengar seperti istilah yang canggih dan kompleks, tetapi sebenarnya, konsep ini bisa dijelaskan dengan cara yang sederhana. Deep learning adalah salah satu cabang kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang meniru cara kerja otak manusia untuk belajar dari data. Jika otak kita terdiri dari jaringan saraf yang saling terhubung, deep learning menggunakan algoritma yang menyerupai itu, disebut neural network.
Menurut Weiss et al. (2016), teknologi deep learning menggunakan banyak lapisan untuk merepresentasikan abstraksi data dan membangun model komputasi. Meskipun membutuhkan waktu lama untuk melatih model karena banyaknya parameter yang harus diproses, deep learning memiliki keunggulan dalam kecepatan saat pengujian dibandingkan algoritma machine learning lainnya.
Apa Itu Deep Learning?
Bayangkan seorang bayi belajar mengenali wajah orang tuanya. Pada awalnya, bayi hanya melihat warna dan bentuk. Tapi seiring waktu, otaknya mulai menyusun pola: wajah yang tersenyum, suara yang dikenal, atau bau tertentu. Deep learning bekerja dengan cara yang mirip. Sistem ini memproses data dalam beberapa "lapisan" untuk memahami pola-pola yang kompleks, misalnya:
Lapisan pertama: Mengenali bentuk dasar, seperti lingkaran atau garis.
Lapisan kedua: Menghubungkan bentuk dasar ini menjadi objek, misalnya sebuah mata atau hidung.
Lapisan berikutnya: Menggabungkan informasi untuk mengenali wajah secara utuh.
Komputer dilatih menggunakan ribuan atau bahkan jutaan data hingga "belajar" membuat keputusan yang akurat.
Dengan penerapan yang bijak, teknologi ini bukan hanya membantu guru dan orang tua, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak kita.
AI memiliki kemampuan untuk menyediakan materi pembelajaran yang adaptif sehingga setiap siswa dapat menerima pengalaman belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing.
Selain itu, AI memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi sistem pendidikan. Dengan otomatisasi tugas-tugas administratif dan analisis data, AI memungkinkan pendidik untuk lebih fokus pada pengajaran dan interaksi dengan siswa. Misalnya, AI dapat membantu dalam penilaian dan evaluasi sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih baik dan interaktif. Hal ini akan berdampak positif pada kualitas pendidikan secara keseluruhan.
AI juga berperan dalam memperbaiki aksesibilitas pendidikan. AI mampu menghilangkan berbagai hambatan yang sebelumnya membatasi akses terhadap pendidikan, seperti lokasi geografis dan keterbatasan fisik. Dengan bantuan AI, pendidikan kini dapat diakses oleh lebih banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Kehadiran AI membuka peluang bagi semua individu untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas.
AI pun dapat mendorong inovasi dalam pendekatan pendidikan. Teknologi ini memungkinkan pengembangan metode pengajaran yang lebih kreatif dan interaktif. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi mahasiswa.
Meski secara kemajuan AI membawa banyak manfaat, tetapi perlu kita ingat bahwa AI tidak dapat menggantikan hubungan personal antara Guru dan siswa peserta didik, apalagi berkaitan dengan interaksi social emosional antara guru dan murid ini.
Ini harus diperhatikan dalam pengembangan pembelajaran berbasis AI terutama untuk Pendidikan Anak Usia Dini.
Antara Deep Learning, Machine Learning dan AI
Visiuniversal-blog---Kebijakan dunia pendidikan di Indonesia mengalami perubahan dengan adanya kabinet dan menteri pendidikan yang baru. Ini tentu saja melahirkan beberapa perubahan terkait kebijakan baru dalam dunia pendidikan. Ada beberapa istilah baru yang dikenalkan yang wajib diketahui para guru dan pendidik di seluruh Indonesia. seperti Istilah-istilah dalam kurikulum antara lain:
1. Meaningful Learning = Sebelumnya = Pembelajaran bermakna
2. Joyful Learning = Sebelumnya = Pembelajaran menyenangkan
3. 8 Dimensi lulusan = Sebelumnya = 6 Dimensi Profil
4. Sistem Domisili = Sebelumnya = Sistem Zonasi
5. SPMB = Sebelumnya = PPDB
6. Pengelolaan Kinerja = Sebelumnya =E Kinerja
7. Tes Kompetensi Akademik = Sebelumnya = Tes Kompetensi Akademik
8. Pembelajaran Ramadhan = Sebelumnya = Libur Ramadhan
9. Kenaikan 1x gaji Pokok = Sebelumnya = Sertifikasi
Istilah-istilah tersebut akan digunakan dalam pelaksanaan kegiatan dan program pendidikan tahun 2025-2026 hingga seterusnya.
MACAM-MACAM PERUBAHAN ISTILAH DALAM DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA 2025
VISIUNIVERSAL-Blog---Gerakan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diluncurkan Kementrian pendidikan Dasar dan menengah Jumat 27 Desember 2024.
Acara ini diselenggarakan resmi kementrian Dikdasmen langsung dengan dilakukan juga melalui kanal Youtube Acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik, termasuk:
🎶 Pengenalan:
* Album Lagu Anak dan Senam Anak Indonesia Hebat
🥳 Penampilan Hiburan:
* Drama musikal Kemah Anak Indonesia Hebat bersama Dwiki Dharmawan Light Orchestra
🌟 Penampilan Spesial:
* Mazaya & Sogi Indra Duaja
Yuk, saksikan acara inspiratif ini bersama seluruh keluarga!
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan sumberdaya manusia.
Dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, diperlukan sumber daya manusia (SDM) unggul yang sejalan dengan Asta Cita ke-4, yakni memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan gender. SDM unggul ini harus memiliki delapan karakter utama: religius, bermoral, sehat, cerdas, kreatif, disiplin, mandiri, dan bermanfaat. Karakter-karakter tersebut hanya dapat terbentuk melalui pembiasaan positif yang berkelanjutan hingga akhirnya menjadi budaya. Dengan fondasi karakter yang kuat, generasi masa depan diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, unggul, dan mampu berkontribusi besar bagi bangsa.
Sebagai langkah strategis, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meluncurkan program Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pembiasaan yang sederhana namun berdampak besar. Tujuh kebiasaan tersebut meliputi: Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Gemar Belajar, Makan Sehat dan Bergizi, Bermasyarakat, serta Tidur Cepat. Setiap kebiasaan dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga untuk membentuk mental dan moral yang tangguh.
Melalui gerakan ini, anak-anak Indonesia diajak membangun kebiasaan positif sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan menjadi pondasi kokoh bagi pembentukan karakter yang unggul, bermanfaat bagi diri sendiri, serta menjadi modal penting dalam membangun masa depan bangsa. Mari bersama kita wujudkan generasi sehat, cerdas, dan berkarakter demi Indonesia yang lebih baik!
Peluncuran gerakan 7 kebiasaan Anak Hebat Indonesia
1.Bangun Pagi
2.Rajin Beribadah
3.Rajin Berolahraga
4.Makan Makanan Sehat
5.Giat Belajar
6.Bermasyarakat
7.Tidur Lebih Cepat
---
Ikuti informasi pendidikan melalui kanal berikut:
Laman: kemdikbud.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
GERAKAN TUJUH KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT TAHUN 2025
Visiuniversal-blog---Setelah resmi dilantik Menjadi presiden bapak Prabowo subianto selanjutnya mengumumkan kabinet yang akan membantunya bekerja. Presiden Prabowo Subianto mengumumkan 48 nama menteri dan 5 pejabat yang tidak berada di bawah koordinasi oleh Kementerian Koordinator, serta 59 wakil menteri yang akan membantu pemerintahannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk periode 2024-2029.
Terjadi banyak perubahan terhadap kementrian dan susunan menteri yang dilantik dibandingan kabinet Era Presiden Joko Widodo. termasuk juga perubahan kementrian pendidikan. yang di Era Presiden Prabowo ini di gawangi 2 kementrian utama yaitu Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah dankementrian pendidikan Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Hal ini tentunya akan berimbas pada program-program pendidikan di Indonesia terutama berkaitan dengan kurikulum pendidikan yang akan dilaksanakan disekolah satuan pendidikan.
Sebagaimana kita ketahui, jika terjadi suksesi kepemimpinan dimana ganti menteri tentunya akan berganti juga kebijakan yang akan dilakukan.
Kurikulum merdeka yang digadang-gadang sebagai program unggulan kementrian pendidikan diera menteri pendidikan Nadim makarim, apakah akan tetap dipertahankan atau dilakukan perubahan?
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Muti yang baru saja dilantik menyatakan hal pertama yang akan dilakukan adalah mengkaji ulang tentang Kurikulum Meerdeka Belajar, kebijakan zonasi dan ujian nasional. Yang tentunya menimbulkan pertanyaan apakah Kurikulum Meerdeka akan tetap dipertahankan atau dilakukan perubahan? dan ujian nasional apakah akan diadakan lagi?
Jika dilihat lagi Secara kronologis, Kurikulum Merdeka sebenarnya masih dalam tahap uji coba dan hanya sebagai kurikulum operasional. Kurikulum ini diujicobakan di sekolah-sekolah berakreditasi A atau sekolah penggerak dengan dukungan guru-guru yang telah dilatih.
Sejauh ini Kurikulum Merdeka belum lengkap dan baru memiliki dokumen capaian pembelajaran (CP), buku teks, serta beberapa panduan seperti pengembangan kurikulum operasional satuan pendidikan (KOSP), panduan penguatan profil pelajar Pancasila, dan beberapa panduan lainnya.
Sejauh ini Kurikulum Merdeka selalu dipromosikan sebagai kurikulum yang berorientasi kebutuhan siswa dan menampung perbedaan atau diferensiasi karakter siswa. Dengan demikian, kritik tersebut harus mendorong penyelenggaraan evaluasi Kurikulum Merdeka secara menyeluruh.
Masa transisi selama tiga tahun bisa dimanfaatkan untuk evaluasi, pembenahan, dan penyempurnaan. Sejauh ini memang belum ada bukti ilmiah bahwa Kurikulum Merdeka itu efektif.
Klaim bahwa Kurikulum Merdeka efektif tidak cukup meyakinkan karena tidak disertai bukti-bukti ilmiah argumentatif yang diperoleh melalui metode penelitian ilmiah yang meyakinkan.
Sejauh ini metode untuk menunjukkan Kurikulum Merdeka efektif masih harus dipertanyakan karena hanya dilakukan melalui survei persepsi dan studi etnografis. Ini tentu saja tidak cukup.
Keampuhan Kurikulum Merdeka sebagai alternatif kurikulum belumlah teruji. Banyak dimensi akademik dan non-akademik yang menegaskan bahwa Kurikulum Merdeka yang muncul dari pengembangan prototipe kurikulum di masa pandemi Covid-19 belum pantas dijadikan kurikulum nasional.
Kurikulum Merdeka perlu dievaluasi secara kritis dan komprehensif oleh lembaga independen untuk menilai sejauh mana kurikulum ini efektif. Masih banyak kelemahan mendasar, baik dari sisi akademik berupa fundamen teori kurikulum yang dipergunakan, kerangka kurikulum yang menjadi dasar visi pendidikan masa depan, dan keterkaitannya dengan struktur kurikulum yang diimplementasikan, maupun kesiapan para guru sebagai pelaksana kurikulum.
Dari sisi non-akademik, proses implementasi dan mitigasi terhadap kurikulum ini tidak digarap serius secara egaliter sehingga implementasi kurikulum ini menjadi berjarak terhadap para pendidik dan pengelola pendidikan. Kesan transformasi top down yang menjadi kritik dari banyak proses perubahan kurikulum justru semakin nyata.
10 Catatan Kritis Kurikulum Merdeka
Ada sepuluh catatan kritis yang menjadi dasar alasan mengapa memaksakan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional hanya akan membawa kegaduhan dalam transformasi pendidikan.
Pertama, karena sebagai sebuah kurikulum yang menentukan nasib semua anak Indonesia, kajian-kajian ilmiah di kalangan akademisi yang dilakukan secara terbuka tidak dilakukan. Dalam persiapan pembuatan draf Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) pun naskah kajian akademik hanya dibuka secara terbatas sehingga publik dan akademisi tidak bisa memperoleh argumentasi mengapa Kurikulum Merdeka akan segera dipaksakan secara nasional.
Terlebih, dalam proses diskusi terbatas pun tidak ada naskah yang menunjukkan bagaimana kerangka kurikulum didesain, apa dasar filosofisnya, serta urgensi dan relevansinya dengan transformasi pendidikan masa depan. Hal ini seharusnya dikomunikasikan ke publik, kalau perlu dibahas secara akademik di kalangan akademisi. Namun, dinamika intelektual seperti ini tidak terjadi.
Kedua, dari sisi teori kurikulum, Kurikulum Merdeka menegaskan kembali apa yang sudah dimulai dalam Kurikulum 2013, yaitu filsafat pendidikan yang berpusat pada pemelajar. Konsepsi ini pun perlu dikritisi karena Kurikulum 2013 tampaknya gagal mengimplementasikan landasan filosofis ini selama 20 tahun, sementara selama ini filsafat pendidikan berkembang pesat dan Indonesia mengalami tantangan sosial, budaya, ekonomi, yang melaju cepat, sehingga filosofi pendidikan berpusat pada anak pun perlu ditinjau ulang.
Ironisnya, konsep ini di Kurikulum Merdeka dilepaskan dari berbagai dimensi lain dalam konstruksi sistem kurikulum, seperti sistem evaluasi dan penilaian yang koheren dan ketat. Hal ini hanya akan melahirkan anak-anak manja yang sekadar mau mempelajari apa yang disukainya semata. Kurikulum Merdeka melahirkan anak-anak yang seolah-olah mau belajar, tetapi sesungguhnya tidak belajar apa-apa.
Kurikulum Merdeka, menurut terminologi Andy Hargreaves (2021), terjebak dalam mitos pembelajaran menyenangkan dengan andalan utamanya Pembelajaran Proyek Profil Pelajar Pancasila. Hargreaves menyatakan bahwa pembelajaran menyenangkan hanyalah mitos karena belajar melibatkan disiplin, ketekunan, kerja keras, dan komitmen. Sesuatu yang menyenangkan tidak selalu terkait dengan pembelajaran yang mendalam.
Ironisnya, konsep ini di Kurikulum Merdeka dilepaskan dari berbagai dimensi lain dalam konstruksi sistem kurikulum.
Pembelajaran mendalam ini tidak terjadi di Kurikulum Merdeka. Di dalam prinsip belajar Kurikulum Merdeka, sebagaimana dalam draf Permendikbudristek, sangat abai terhadap hasil belajar. Dalam prinsip pembelajaran disebutkan bahwa kurikulum ”memprioritaskan terjadinya kemajuan belajar peserta didik di atas cakupan dan ketuntasan muatan kurikulum yang disampaikan”.
Artinya, tidak ada disiplin dalam mencapai sebuah hasil belajar karena dibebaskan begitu saja. Tidak tuntas belajar tidak apa-apa. Lalu, apa makna belajar apabila demikian? Hal ini diperparah dengan penekanan disiplin positif yang dangkal, longgarnya sistem penilaian, dan evaluasi secara obyektif.
Ketiga, dari sisi kerangka kurikulum, Kurikulum Merdeka tidak mampu menjelaskan di mana keterkaitan antara tujuan pendidikan nasional dengan konstruksi isi materi keilmuan, perilaku, sikap, dan bagaimana kaitannya tujuan pendidikan itu dihela dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan kokurikuler. Dengan demikian, Kurikulum Merdeka hanya berisi rentetan materi belajar (yang ini pun struktur dan alur berpikir logisnya pun masih dipertanyakan) yang wajib dipelajari tanpa ada visi besar bagaimana keterkaitan semua itu dengan tujuan pendidikan nasional.
Apalagi ada kesalahan fundamental dalam konsep capaian pembelajaran (CP) yang ditentukan dari pusat. Capaian pembelajaran ini adalah domain kompetensi guru, bukan pemerintah. Pemerintah itu fokusnya di standar isi, bukan CP
Keempat, terlepas dari berbagai macam kondisi pandemi yang dihadapi, Kurikulum Merdeka ternyata tidak mampu menaikkan skor PISA yang menjadi tanda kualitas pendidikan yang diperbandingkan antarbangsa. Skor PISA 2022 Indonesia jeblok. Bahkan, skor literasi terjun bebas ke dalam jurang, mundur 20 tahun.
Konsepsi transisi pendidikan anak usia dini (PAUD) ke sekolah dasar (SD) yang menyenangkan pun perlu dipertanyakan karena Kurikulum Merdeka justru menghilangkan standar kemampuan baca dan numerasi awal yang seharusnya dipelajari anak-anak sejak masuk SD. Akibatnya, banyak anak sampai kelas III bahkan sampai SMP kelas VII ada yang tidak bisa membaca. Ini sebuah sistem yang mendegradasi kecerdasan anak-anak Indonesia.
Kelima, lemahnya literasi membaca ini dipertegas dengan konsep pembelajaran terdiferensiasi yang secara konseptual tidak mampu dipahami para instruktur, apalagi para guru. Konsep ini apabila tidak disertai asesmen awal tentang anak-anak berkebutuhan khusus, akan menjadikan anak-anak semakin tertinggal dalam proses belajar karena anak akan selalu naik kelas.
Kurikulum Merdeka mengutamakan promosi daripada retensi, atau tinggal kelas. Maka, ada konsep fase sehingga anak tidak ada tinggal kelas, semua naik, hanya fasenya yang beda. Perbedaan tahapan belajar ini diintervensi dengan pembelajaran terdiferensiasi.
Faktanya, guru tetap memakai pola ajar lama karena tidak paham bagaimana diferensiasi diterapkan. Akibatnya, anak-anak yang lambat belajar banyak masuk dalam kelompok anak berkebutuhan khusus karena tidak terdeteksi sejak awal kemampuannya.
Keenam, kalau yang menjadi dasar pemilihan Kurikulum Merdeka adalah argumentasi bahwa selama masa pandemi kurikulum ini efektif mengatasi learning loss, maka perlu dilihat datanya. Faktanya, selama masa pandemi yang mengatasi learning loss adalah Kurikulum Darurat, yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan.
Saat itu cikal bakal Kurikulum Merdeka adalah Kurikulum Prototipe yang diterapkan di sekolah penggerak. Sekolah penggerak ini mengandalkan seleksi pada kualitas kepala sekolah sehingga prasyarat perubahan sudah dipatok untuk kepala sekolah dengan kriteria tertentu.
Bukti bahwa Kurikulum Merdeka itu efektif untuk semua level kompetensi kepala sekolah tidak ada. Karena itu, dalam proses transformasi, Kurikulum Merdeka hanya bisa dilaksanakan oleh kepala sekolah yang memang dari awal sudah baik, yang tanpa ada program Sekolah Penggerak pun, sekolah itu sudah akan maju.
Ketujuh, proses implementasi Kurikulum Merdeka sesungguhnya tidak terjadi dalam alam kemerdekaan dan kebebasan, sebab semua sekolah diminta mendaftarkan diri dengan berbagai macam pilihan. Namun, faktanya, banyak tekanan dan desakan, baik kepada pemda maupun sekolah, untuk memilih Kurikulum Merdeka meskipun tanpa persiapan.
Sekolah yang tidak memperoleh pelatihan guru tentang Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pun terpaksa pontang-panting belajar sendiri yang belum tentu dapat memahaminya dengan baik. Yang mengherankan, ada sekolah yang sama sekali belum pernah memperoleh pelatihan Kurikulum Merdeka, dalam asesmennya masuk dalam kategori mandiri berbagi.
Jadi, Kurikulum Merdeka ini hanya melegitimasi sekolah-sekolah yang sudah baik saja, yang telah melaksanakan indikator dalam Kurikulum Merdeka. Sementara, sekolah lain silakan pilih dan berlatihlah sendiri, pemerintah tidak ikut campur tangan. Pemaksaan dan manipulasi seperti ini merupakan kecacatan proses implementasi Kurikulum Merdeka. Hal ini kalau dipaksakan akan melahirkan berbagai macam ketimpangan kualitas pendidikan.
Kedelapan, kebijakan Implementasi Kurikulum Merdeka yang dibarengi dengan proses kebijakan rapor pendidikan dengan model insentif seperti BOS Kinerja, membuat sekolah yang bagus semakin bagus, yang buruk akan semakin hancur karena tidak ada dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan, terutama pada pendidikan dasar wajib belajar. Akibatnya, disparitas kualitas pendidikan antarsekolah dan antardaerah akan semakin besar. Sekolah bersaing untuk kuota BOS Kinerja dan ini menjadi kultur yang tidak sehat dalam transformasi pendidikan.
Sekolah yang tidak memperoleh pelatihan guru tentang Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pun terpaksa pontang-panting belajar sendiri.
Kesembilan, Implementasi Kurikulum Merdeka yang dipasangkan dengan aplikasi Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang dipaksakan secara terstruktur, sistematis, dan masif secara faktual menghabiskan waktu guru, mengabaikan layanan guru kepada siswa, guru sibuk dengan pelatihan dan pengembangan diri, tetapi siswa terabaikan.
Aplikasi PMM yang dipaksakan mendemoralisasi kinerja guru, mempermiskin kekayaan komunikasi manusiawi dalam pengembangan profesional guru, tidak memercayai setiap orang yang menjadi guru, dan memperbudak guru dengan gawai dan teknologi bukan demi kepentingannya sendiri dan para siswa, tetapi demi kepentingan pembuat kebijakan. Penjajahan teknologi menjadi dampak dari aplikasi PMM yang dipaksakan.
Kesepuluh, pemaksaan nomenklatur Kurikulum Merdeka, yang secara substansi kurikulum masih sangat rapuh dan masih perlu evaluasi menyeluruh menjadi kurikulum nasional sesungguhnya mencerminkan egoisme kelompok kepentingan di Kemendikbudristek. Alih-alih peduli kepada visi transformasi pendidikan di masa depan, mereka justru mengibarkan bendera sejarah bagi kelompoknya sendiri. Level kepemimpinan pendidikan saat ini sangat dangkal dan mengutamakan legasi dan pengingat diri, tanpa memikirkan kebaikan masa depan bangsa.
Sepuluh catatan kritis ini sudah cukup menjadi daya dorong bagi publik untuk menyimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka belum pantas menjadi kurikulum nasional. Pemaksaan hal ini hanya akan semakin menegaskan bahwa kepentingan diri dan kelompok kepentingan di Kemendikbudristeklah yang menjadi alasan perubahan kurikulum nasional yang prematur dan tanpa visi transformasi demi pencerdasan kehidupan bangsa.
Apa Kabarnya kurikulum Merdeka di Era Presiden Prabowo?
Visiuniversal- Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 Tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Jenjang Pendidikan Menengah.
Download Salinan PERMENDIKBUD RISTEK NOMOR 12 TAHUN 20024 di sini !!
Akhmad Solihin May 01, 2024 CB Blogger Indonesia
PERMENDIKBUD RISTEK NOMOR 12 TAHUN 20024 tentang Kurikulum PAUD, SD, SMP, SMA
Visiuniversal.blog--Langkah mudah cara mendaftarkan PMM Kurikulum Merdeka untuk satuan lembaga PAUD hingga sukses. dalam Platform Merdeka Mengajar dan pendaftaran Kurikulum meredeka.
Langkah-langkah mendaftar IKM :
1. Siapkan kepala sekolah yang memiliki akun belajar ID
2. Buka PMM
3. Klik buka pendaftaran
4. Daftar sekarang
5. Unduh surat format pernyataan (khusus sekolah swasta)
6. Pilih opsi pendaftaran IKM yang diinginkan
7. Pilih selesai
8. Setelah selesai lihat rekap pendaftaran
Untuk yang terkendala akun belajar (lupa Password) dan sudah mencoba reset mandiri tapi tidak berhasil silakan isi link form berikut https://s.id/Kendala_akunbelajar.
Akhmad Solihin April 22, 2024 CB Blogger Indonesia
LANGKAH MUDAH MENDAFTARKAN PMM KURIKULUM MEREDEKA
Visiuniversal-blogVisiuniversal-blog---Secara mendasar pembelajaran berdiferensiasi adalah teknik instruksional atau pembelajaran di mana guru menggunakan berbagai metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan individual setiap peserta didik sesuai dengan kebutuhan mereka. Kebutuhan tersebut dapat berupa pengetahuan yang ada, gaya belajar, minat, dan pemahaman terhadap materi Pembelajaran.
Pada dasarnya, pembelajaran berdiferensiasi memungkinkan setiap guru pendidik untuk bertemu dan berinteraksi dengan siswa pada tingkat yang sebanding dengan tingkat pengetahuan mereka untuk kemudian menyiapkan preferensi belajar mereka.
Untuk itulah maka pembelajaran berdiferensiasi ini memiliki tujuan untuk menciptakan kesetaraan belajar bagi semua siswa dan menjembatani kesenjangan belajar antara yang berprestasi dengan yang tidak berprestasi. Singkatnya, pembelajaran berdiferensiasi adalah proses pembelajaran yang dibuat sedemikian rupa sehingga siswa merasa tertantang untuk belajar.
Penting untuk dicatat, bahwa beberapa siswa pasti memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang suatu topik belajar tertentu, sedangkan siswa yang lain tidak karena siswa tersebut memiliki pengetahuan yang sama sekali baru dengan topik tersebut. Selain itu, beberapa orang siswa juga memiliki kemampuan pemahaman yang lebih baik dan lebih cepat jika ia mendengarkan penjelasan gurunya secara langsung atau melalui audio, sedangkan beberapa orang siswa lagi dapat belajar secara efektif apabila ia berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, dan beberapa orang siswa lainnya harus menghabiskan waktunya untuk membaca sendiri guna mendapatkan pengetahuan secara utuh dan lebih lengkap. Selain itu, kita juga mungkin memiliki anak-anak yang senang belajar dan berkolaborasi dalam sebuah kelompok kecil, sementara beberapa anak lainnya lebih suka belajar secara mandiri.
Adanya perbedaan-perbedaan ini mesti disikapi oleh setiap guru dengan cara menampilkan diferensiasi konten dan berbagai pendekatan yang dapat memastikan bahwa semua materi belajar telah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang memiliki kemampuan berbeda.
Ada empat faktor yang ikut berperan dalam meningkatkan pembelajaran yang berbeda ini, yakni: konten, proses, produk, dan lingkungan belajar. Pada prinsipnya, dalam pembelajaran berdiferensiasi ini, tujuan pembelajaran di kelas mesti sama meskipun bahan ajar, penilaian, dan metode penyampaiannya bisa berbeda berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa.
Metode Pembelajaran Berdiferensiasi
Seperti telah disebutkan di depan, guru dapat membedakan pembelajaran itu dalam empat cara, yaitu:
Konten
Isinya adalah materi pembelajaran itu sendiri. Hal ini dapat dibedakan dalam beberapa cara. Pertama, siswa memiliki tingkat penguasaan atau pengetahuan yang berbeda terhadap suatu mata pelajaran. Beberapa orang siswa mungkin tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang materi pelajaran itu, beberapa orang siswa mungkin memiliki pengetahuan secara parsial, dan beberapa orang siswa lainnya mungkin telah menguasai pengetahuan tentang materi pelajaran itu.
Kedua, gaya belajar peserta didik juga berbeda-beda. Ada pembelajar visual, auditori, dan kinestetik. Seorang pembelajar visual tentu dapat dengan mudah memperoleh pengetahuan baru melalui representasi visual dari topik pelajaran tertentu. Di sisi lain, pembelajar auditori akan lebih mampu memahami topik secara lebih baik, ketika ia mendengarkan melalui audio atau penjelasan lisan dari guru. Sedangkan pembelajar kinestetik, seorang siswa akan lebih cepat memahami ketika ia dapat berpartisipasi secara fisik dalam proses pembelajaran.
Nah, memasukkan pengetahuan dan pemahaman tentang hal ini ke dalam pengajaran, tentu akan sangat membantu seorang guru dalam mengembangkan berbagai konten dan bahan ajar yang dapat menjangkau setiap siswa.
Proses
Proses ini berbicara tentang bagaimana seorang guru dapat memberikan instruksi yang tepat kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Selain itu, penilaian berkelanjutan selama pembelajaran juga akan membantu guru dalam memahami apakah setiap siswa telah belajar dengan kemampuan terbaik mereka atau tidak.
Guna menentukan proses dan model pembelajaran yang sesuai bagi siswa tersebut, maka guru harus memahami minat, kemampuan, dan tingkat pengetahuan setiap siswa. Mengapa demikian? Karena setiap siswa itu sesungguhnya memiliki cara belajar masing-masing yang bersifat khas dan unik.
Ada banyak contoh untuk membuktikan hal itu. Dalam satu kelas saja, kita pasti akan menemui beberapa siswa yang dapat belajar dengan baik apabila ia mendengarkan instruksi berbasis audio atau mendengarkan suara gurunya secara langsung. Sebaliknya bagi siswa yang lain, mendengarkan penjelasan guru saja tidak cukup, mereka juga harus membaca penjelasan tersebut secara berulang-ulang. Sedangkan beberapa orang siswa lainnya, akan dapat belajar dengan baik melalui manipulasi objek terkait dengan konten tersebut. Selain itu, ada juga beberapa orang siswa yang lebih suka bekerja sendiri, sementara yang lainnya lebih suka belajar secara kolaboratif dan berbasis kelompok.
Dengan demikian, memahami kebutuhan setiap siswa di awal pembelajaran, tentu akan sangat membantu seorang guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang berbeda dan membantu para siswa untuk dapat belajar secara efektif dan menyenangkan.
Terakhir, proses pembelajaran yang layak diterapkan oleh seorang guru adalah kemampuan dalam mendemonstrasikan cara pemecahan masalah, lalu melangkah mundur agar siswa mampu mereplikasi proses tersebut sambil terus menawarkan dukungan seiring dengan kemajuan belajar para siswa.
Produk
Aspek ini melibatkan metode yang digunakan oleh guru dalam mengetahui tingkat penguasaan materi atau bahan ajar dari setiap siswa. Untuk mengetahui penguasaan materi itu, seorang guru dapat melakukannya dengan cara melakukan tes, meminta siswa untuk menuliskan laporan tentang topik-topik berdasarkan materi pelajaran, dan lain-lain.
Namun apapun cara itu, metode penilaian terbaik adalah metode yang cocok dengan tingkat minat intelektual masing-masing siswa dan cara belajar yang mereka sukai. Misalnya, cara yang baik untuk menguji pembelajar kinestetik adalah melalui penilaian praktis, sedangkan pembelajar auditori adalah dengan melakukan penilaian verbal atau lisan.
Selain itu, siswa yang baru mengenal suatu topik mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan sebaik mereka yang memiliki pemahaman topik yang lebih baik. Oleh karena itu, pendekatan diferensiasi produk ini akan memberikan kepada siswa berbagai pilihan untuk menunjukkan tingkat pemahaman mereka terhadap pelajaran secara individual.
Lingkungan belajar
Secara umum ada dua lingkungan belajar bagi seorang siswa, yaitu lingkungan belajar yang dapat meningkatkan pembelajaran mereka dan lingkungan belajar yang dapat merusak pembelajaran mereka. Lingkungan belajar yang tenang dan kondusif akan mampu meningkatkan hasil belajar, sedangkan lingkungan belajar yang bising akan dapat mengurangi konsentrasi dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Selain itu penting juga untuk dipahami, pada saat mempertimbangkan faktor kontekstual untuk meningkatkan pembelajaran berdiferensiasi ini, maka desain ruang kelas harus diatur sedemikian rupa dan fleksibel untuk mendukung kerja kelompok dan kolaborasi, serta untuk mendorong dan memfasilitasi para siswa yang lebih suka bekerja secara individual dan sendiri-sendiri. Terakhir, faktor lingkungan seperti pencahayaan, suasana kelas, ukuran kelas, pengaturan papan, dan.lain-lain, semuanya harus berkontribusi pada pencapaian prestasi belajar siswa.
Manfaat Pembelajaran Berdiferensiasi
Di bawah ini adalah beberapa manfaat dari implementasi pembelajaran berdiferensiasi bagi siswa, yaitu:
Pertumbuhan yang sama bagi semua siswa
Pada prinsipnya, pembelajaran berdiferensiasi diadopsi untuk mendukung setiap siswa dalam perjalanan belajar mereka. Metode ini adalah cara untuk menjangkau dan mempengaruhi setiap siswa di semua tingkatan. Oleh karena itu, secara individu, seorang guru harus dapat meningkatkan minat siswa dalam proses belajar dan mengarahkan mereka untuk mewujudkan potensi belajar mereka secara optimal.
Pembelajaran yang menyenangkan
Ketika guru mengadopsi serangkaian strategi pembelajaran yang selaras dengan tipe belajar siswa, maka siswa akan merasakan betapa belajar itu terasa mudah dan menyenangkan.
Pembelajaran yang dipersonalisasi
Pembelajaran berdiferensiasi ini adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Guru hanya mengembangkan pelajaran mereka berdasarkan tingkat pengetahuan, preferensi belajar, dan minat siswa.
Oleh karena itu, lingkungan belajar di sekolah harus bisa mendukung para siswa untuk belajar secara kelompok maupun sendiri-sendiri. Selain itu, konten atau materi pengajaran yang disiapkan oleh guru dapat mencakup format-format seperti: audio, video, dan praktik, dalam upaya memastikan pembelajaran yang dipersonalisasi itu tepat untuk setiap siswa.
Tantangan Pembelajaran Berdiferensiasi
Tantangan Pembelajaran Berdiferensiasi di Satuan Pendidikan
Dalam dimensi satuan pendidikan, manfaat pembelajaran berdiferensiasi sudah sangat jelas, tetapi dalam praktiknya ada beberapa tantangan yang terkait dengan pembelajaran Berdiferensiasi ini, yaitu:
Faktor waktu
Meskipun pembelajaran berdiferensiasi adalah cara yang menyenangkan untuk mengajar, namun hampir dipastikan para guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk fokus pada setiap siswa secara individual.
Hal ini dikarenakan setiap sekolah sudah mengalokasikan waktu untuk setiap guru dan mata pelajarannya masing-masing. Dan untuk itu, sangat mungkin bagi guru untuk tidak memiliki waktu yang cukup guna menilai tingkat pengetahuan siswa atau mengelompokkannya sesuai dengan pengetahuan dan preferensi belajar masing-masing siswa.
Tekanan tinggi
Implementasi pembelajaran berdiferensiasi ini melibatkan banyak proses, mulai dari pra-penilaian hingga penilaian berkelanjutan, mulai dari perencanaan konten hingga proses pengajaran, dan lain-lain. Hal ini tentu saja dapat membuat guru merasa kewalahan. Selain itu, guru juga harus melayani para siswa baik secara individual maupun kelompok. Kondisi seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh guru dengan jumlah siswa yang begitu banyak di kelasnya.
Biaya tinggi
Untuk memfasilitasi pembelajaran berdiferensiasi, sekolah harus memiliki akses ke berbagai sumber daya dan bahan ajar untuk mendukung pembelajaran setiap siswanya. Selain itu, sekolah juga harus menyediakan materi pelajaran untuk setiap topik. Jelas hal ini tentu akan membutuhkan dukungan keuangan secara berkelanjutan yang mungkin tidak dapat dipenuhi semua oleh banyak sekolah.
Kesimpulan
Karena setiap anak itu istimewa dan unik, maka pembelajaran berdiferensiasi merupakan persyaratan bagi terlaksananya pembelajaran untuk semua. Inilah urgensinya mengapa setiap guru sudah harus menjadikan pembelajaran berdiferensiasi ini sebagai salah satu strategi untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap siswa di satuan pendidikan.
Demikian tentang Pembelajaran berdiferensiasi antara manfaat dan tantangannya di satuan pendidikan yang dapat admint visiuniversal bagikan. semoga bermanfaat. Terimakasih.
Akhmad Solihin March 28, 2024 CB Blogger Indonesia
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI ANTARA MANFAAT DAN TANTANGANNYA DISATUAN PENDIDIKAN
Visiuniversal.blog--Program Sekolah Penggerak Membangun Ekosistem Sekolah Unggul dan bermutu baik.
Secara mendasar Sekolah Penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi dan karakter yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru).
Program Sekolah Penggerak diharapkan dapat menjadi katalis untuk mendorong transformasi pendidikan di Indonesia, dengan melibatkan seluruh ekosistem pendidikan, baik di tingkat pusat, daerah, maupun masyarakat. Program ini juga diharapkan dapat membantu pemerataan mutu pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, baik di sekolah negeri maupun swasta.
Program Sekolah Penggerak adalah sebuah inisiatif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM) sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga kepala sekolah. Program ini bertujuan untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia, yaitu menciptakan Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global.
Program Sekolah Penggerak memiliki lima intervensi utama, yaitu:
1. Pendampingan konsultatif dan asimetris
Pendampingan konsultatif dan asimetris, yaitu pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sekolah, serta melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta.
2. Penguatan SDM sekolah
b. Penguatan SDM sekolah, yaitu pemberian bantuan dan insentif untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan kepala sekolah dan guru, serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi dan minat mereka.
3. Pembelajaran dengan paradigma baru
c. Pembelajaran dengan paradigma baru, yaitu pembelajaran yang berorientasi pada siswa, memanfaatkan teknologi, berbasis kompetensi dan karakter, serta sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan siswa.
4. Perencanaan berbasis data
d. Perencanaan berbasis data, yaitu perencanaan program dan anggaran sekolah yang didasarkan pada data dan refleksi diri, serta dilakukan secara kolaboratif dan transparan.
5. Digitalisasi sekolah
Digitalisasi sekolah, yaitu pemanfaatan platform digital untuk mendukung proses pembelajaran, administrasi, komunikasi, dan evaluasi sekolah.
5 Jenis Intervensi dalam Mengakselerasi Sekolah
Berikut ini lima jenis intervensi yang akan didapatkan oleh peserta Sekolah Penggerak.
1. Pendampingan Konsultatif dan Simetris
Ini merupakan program kemitraan antara Kementerian Pendidikan dan Budaya dengan Pemda. Pada jenis intervensi ini, Kemendikbud akan memberikan pendampingan implementasi sekolah penggerak.
Kemendikbud akan memberikan pendampingan kepada Pemda agar dapat memberikan solusi apabila terdapat kendala di lapangan pada saat implementasi program Sekolah Penggerak.
2. Penguatan Sumber Daya Manusia
Penguatan SDM di sekolah yaitu kepada kepala sekolah, pengawas sekolah, pemilik, dan juga guru yang mengajar melalui program pelatihan dan pendampingan dengan pelatih ahli dan Kemendikbud.
Satu fasilitator akan melatih 5 sampai 7 kepala sekolah. Jadi, pelatih akan mendampingkan guru sekolah secara berkelompok.
Pelatihan implementasi pembelajaran dan leadership akan diberikan 1 kali per tahunnya kepada SDM sekolah. Pendampingan akan dilakukan dengan in-house training.
Program Sekolah Penggerak diharapkan dapat menjadi katalis untuk mendorong transformasi pendidikan di Indonesia, dengan melibatkan seluruh ekosistem pendidikan, baik di tingkat pusat, daerah, maupun masyarakat. Program ini juga diharapkan dapat membantu pemerataan mutu pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, baik di sekolah negeri maupun swasta.
Hal ini tentunya dalam rangka mencapai Tujuan pendidikan nasionalyang telah dicita-citakan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman da bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan memiliki budi pekerti yang luhur.
Demikian Artikel singkat tentang Program Sekolah Penggerak Membangun Ekosistem Sekolah Unggul. Semoga bermanfaat.
Akhmad Solihin January 17, 2024 CB Blogger Indonesia
PROGRAM SEKOLAH PENGGERAK MEMBANGUN EKOSISTEM SEKOLAH UNGGUL BERMUTU
KARAKTERISTIK KURIKULUM MERDEKA
Pengembangan Soft Skill dan Karakter
Pengembangan Soft Skill dan Karakter melalui projek penguatan profil pelajar Pancasila
Fokus pada Materi Esensial
Fokus pada materi esensial relevan, dan mendalam sehingga ada waktu cukup untuk membangun kreativitas dan inovasi peserta didik dalam mencapai kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi
Pembelajaran yang Fleksibel
Keleluasaan bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan tahap pencapaian dan perkembangan masing-masing peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.
Kesimpulannya Karakteristik Kurikulum Merdeka terbaru :
KARAKTERISTIK KURIKULUM MERDEKA TERBARU
PAUD-AnakBermainbelajar---Transisi PAUD-SD Memastikan Anak Mendapatkan Hak Pendidikan Sesuai Kondisi Kesiapan Bersekolah
Transisi PAUD-SD merupakan proses perpindahan peran anak sebagai peserta didik PAUD menjadi peserta didik SD dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan belajar baru. Kesiapan bersekolah harus berangkat dari tujuan pembelajaran yang sesungguhnya, yaitu memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk memiliki kemampuan fondasi untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, di tingkatan kelas manapun. Sehingga, transisi PAUD-SD merupakan upaya untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya terlepas dari manapun titik berangkat anak.
Tidak dapat dipungkiri saat ini masih ditemukan banyak anak yang langsung masuk kelas 1 SD dan membuat mereka tidak mendapatkan fase fondasi yang menjadi hak-nya. Kondisi ini semakin marak terjadi di masa pandemi. Oleh karena itu, perlu adanya berbagai alat bantu dan laman yang dapat digunakan sebagai media komunikasi untuk memberikan informasi tentang pengertian, prinsip, mekanisme dan rambu-rambu dalam penguatan transisi PAUD-SD ini agar pelaksanaannya dapat berhasil baik di tingkat pusat, daerah, sampai ke satuan pendidikan dan orangtua/masyarakat.
Menindaklanjuti Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Nomor 0759/C/HK.04.01/2023 tentang Penguatan Transisi PAUD ke Sekolah Dasar Kelas Awal, maka dalam pelaksanaan penguatan Transisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ke Sekolah Dasar (SD) kelas awal, kami minta Saudara memastikan praktik sebagai berikut sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar di satuan PAUD dan SD kelas awal:
Penerimaan peserta didik baru pada SD tidak menerapkan tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan.
Pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik baru dilaksanakan mengacu pada ketentuan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengenalan lingkungan sekolah.
Selain melakukan pengenalan lingkungan sekolah bagi peserta didik baru sebagaimana dimaksud pada angka 2, khusus SD dalam rentang waktu dua minggu pertama pada tahun ajaran baru, perlu:
melakukan pengenalan peserta didik dengan lingkungan belajarnya agar peserta didik merasa nyaman berkegiatan di lingkungan sekolah;
merancang kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk mendapatkan potret capaian peserta didik melalui asesmen awal;
melakukan asesmen awal pembelajaran yang bersifat holistik dengan dapat menggunakan atau memodifikasi contoh yang dapat diakses melalui tautan laman s.id/transisipaudsd dan Platform Merdeka Mengajar (PMM) melalui tautan laman s.id/pmm-transisipaudsd.
menggunakan hasil asesmen awal sebagaimana dimaksud salah satu uraian di atas sebagai basis perencanaan kegiatan pembelajaran pada sepanjang tahun ajaran.
Pembelajaran pada satuan PAUD dan SD kelas awal dilaksanakan dengan mempertimbangkan kebutuhan belajar peserta didik sejak di PAUD sampai dengan kelas 2 (dua) SD. Satuan pendidikan perlu menyesuaikan layanannya agar dapat memfasilitasi peserta didik yang belum pernah mendapatkan pembinaan kemampuan melalui satuan PAUD. Rangkaian praktik pembelajaran berupa buklet advokasi penguatan transisi PAUD-SD dapat diakses melalui tautan laman https://ditpsd.kemdikbud.go.id/transisipaudsd/.
Satuan PAUD dan SD perlu melakukan persiapan agar pada tahun ajaran 2023/2024 dapat menerapkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1 s.d. 4 di atas. Kemendikbudristek telah menyiapkan serangkaian alat bantu yang dapat diakses pada tautan laman s.id/transisipaudsd dan tautan laman Platform Merdeka Mengajar (PMM) s.id/pmm-transisipaudsd.
Surat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak Tentang Penguatan Tansisi Pendidikan Anak Usia Dini ke Sekolah Dasar Awal dapati di Klik KLIK DISINI
Sumber dan Referensi:
https://ditpsd.kemdikbud.go.id/transisipaudsd/
https://transisipaudsd.direktoratsd.id/transisi-paud-ke-sd-yang-menyenangkan/
Transisi PAUD-SD Memastikan Anak Mendapatkan Hak Pendidikan Sesuai Kondisi Kesiapan Bersekolah
Visiuniversal---Untuk meraih dan menyandang sekolah menggunakan kurikulum merdeka, berdasarkan pengalaman pada lembaga yang telah melaksanakannya, ada 11 tahapan yang harus dipenuhi di antaranya yaitu:
- Kepala sekolah sudah mempunyai Nomor UKG
- Sudah login SIMPKB
- Kepala sekolah, Guru dan siswa memiliki akun belajar Id
- Kepala sekolah, Guru menautkan SimPKB dengan akun belajar Id
- Kepala sekolah melakukan pendaftaran IKM
- Kepala sekolah dan guru LOGIN PMM
- Kepala sekolah dan guru membuat bukti karya di PMM
- Kepala sekolah dan guru ikut Pelatihan Mandiri di PMM (walaupun dalam proses)
- Admin sekolah atau kepsek sudah mendownload raport pendidikan
- Sekolah sudah input PBD
jika kesemua langkah dan syarat tersebut diatas telah tepenuhi. maka diberanda dapodik lembaga terssebut akan tertulis KURIKULUM MENGGUNAKAN KURIKULUM MERDEKA
Langkah selanjutnya; segera singkronkan dapodik dengan bantuan operator subdin Pendidikan atau dinas pendidikan.
Demikian ringkasan 11 tahapan yang harus dipenuhi lembaga sekolah Untuk meraih dan menyandang sekolah menggunakan kurikulum merdeka, berdasarkan pengalaman pada lembaga yang telah melaksanakannya, yang adimin visiuniversal bagikan semoga bermanfaat.
inilah 11 syarat dan langkah-langkah Lembaga/ Sekolah Kurikulum Merdeka
Visiuniversal--- Dalam rangka percepatan IKM atau Implementasi kurikulum merdeka yang dicanangkan pemerintah dalam hal ini kementrian Pendidikan dan kebudayaan.
Dalam kesempatan ini admint visiuniversal juga mencoba berbagi tentang bagaimana cara dan proses pendaftaran Implementasi kurikulum merdeka.
IKM di sini untuk Sekolah baik Sekolah lembaga Formal Maupun Non Formal.
Untuk langkah awalnya Pertama tama anda sudah harus memiliki Akun SIM PKB bagi yang belum memiliki dapat membuatnya dan mengikuti caranya di di sini !!
Untuk memasuki akun sim PKB melalui link atau situs SIM PKB yang telah tersedia dapat dilakukan dengan cara mengklik tautan berikut ini. https://gtk.belajar.kemdikbud.go.id
Atau bagi anda yang senang dengan cara browing dapat mengetik di pencarian Google dengan mengetik SIM PKB.
Selanjutnya pilih login aplikasi SIM PKB hingga memasuki fortal aplikasi sim PKB
Masuk atau Login di Aplikasi SIMPKB
CARA PENDAFTARAN IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA (IKM)
Visiuniversal--- Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
Pengertian Kurikulum Merdeka
Kurikulum merdeka belajar ialah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Dengan kurikulum ini maka pembelajaran akan lebih maksimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan memperkuat kompetensinya.
Prinsip-prinsip pengembangan Kurikulum. Ada berbagai prinsip pengembangan kurikulum sebagai kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut, di antaranya:
1. Prinsip relevansi
Relevansi artinya sesuai antara komponen tujuan, isi/ pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi kurikulum dan juga sesuai dengan dengan kebutuhan masyarakat, baik dalam pemenuhan tenaga kerja maupun warga masyarakat yang diidealkan.
Relevansi dibedakan menjadi dua macam:
a) relevansi keluar. Maksudnya adalah tujuan, isi, dan proses belajar yang mencakup kebutuhan, dan perkembangan masyarakat;
b) relevansi ke dalam. yaitu terjalin relevansi di antara komponen-komponen kurikulum, tujuan, isi, proses pencapaian, dan evaluasi.
2. Prinsip Kontinuitas.
Prinsip Kontinuitas atau berkesinambungan menghendaki pengembangan kurikulum yang berkesinambungan secara vertikal dan horizontal. Berkesinambungan secara vertikal (brtahap/berjenjang) dalam artian antara jenjang pendidikan yang satu dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dikembangkan kurikulumnya secara berkesinambungan tanpa ada jarak diantara keduanya. Dari tujuan pembelajaran sampai ketujuan pendidikan nasional juga berkesinambungan secara horozontal berkelanjutan) dapat diartikan pengembangan kurikulum jenjang pendidikan dan tingkat/kelas yang sama tidak terputus-putus prinsip berkesinambungan merupakan pengembangan yang terpadu.
3. Prinsip Pleksibilitas,
Prinsip Pleksibilitas, bahwa kurikulum harus mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu yang harus dicapai. Jadi jelas fleksibilitas menurut adanya keluwesan dan kelenturan melakukan penyesuaian-penyesuaian komponen kurikulum dengan setiap situassi dan kondisi yang selalu berubah.
Demikian tentang prinsip-prinsip pengembangan Kurikulum, semoga bermanfaat.
Akhmad Solihin January 12, 2023 CB Blogger Indonesia
PENGERTIAN DAN PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM MERDEKA
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan dalam keputusan Menteri Pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi Nomor56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran
maka dilakukan langkah-lankah untuk mendukung percepatan implementasi Kurikulum atau IKM. Implementasi Kurikulum Mendeka di satuan Pendidikan
Akhmad Solihin January 05, 2023 CB Blogger Indonesia
PERCEPATAN IKM Impelementasi Kurikulum Merdeka
Visiuniversal---Seperti kita ketahui, untuk mewujudkan visi Indonesia maju dan berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya pelajar Pancasila. Kementrian Pendidikan kebudayaan Riset dan Teknologi,terus memikirkan berbagai terobosan merdeka belajar. Merdeka belajar yang diusung Kemdikbudristek memiliki tujuan untuk mencapai pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia melalui transformasi pada 4 hal yakni; Inprstruktur dan teknologi, kebijakan prosedur dan perencanaan, kepemimpinan masyarakat dan budaya, serta kurikulum Pedagogi dan asement.
Terkait dengan program merdeka belajar, Transformasi pendidikan Indonesia dimulai pada :
1. Merdeka Belajara Episode 1 (4 Pokok Kebijakan)
merdeka belajar tahap pertama yang menghadirkan terobosan 4 pokok kebijakan, agar paradigma dan cara lama dalam belajar dan mengajar dapat bertransformasi kearah kemajuan.
Adapun kebijakan utama pada tahap merdeka belajar Episode 1 ini adalah:
1. Mengganti Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional
2, Menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional
3. Menyederhanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
4. Menyesuaikan kuota jalur prestasi Penerimaan penerimaan peserta didik baru berbasis zona.
2. Merdeka Belajar Episode 2 (Kampus Merdeka)
Adapun kebijakan utama pada tahap merdeka belajar Episode 2 ini adalah:
1. Memberikan kemudahan dalam pembukaan program studi baru
2. Menyederhanakan akreditasi perguruan tinggi
3. Kemudahan menjadi PTN BH
4. Hak belajar tiga semester di luar bidang studi
3. Merdeka Belajar Episode 3 (Perubahan Mekanisme Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Tahun anggaran 2020).
1. Transfer dana BOS langsung ke rekening sekolah
2. Keleluasaan bagi sekolah dalam menggunakan dana BOS
3. Peningkatan Satuan biaya per siswa dalam dana BOS]
4. Perbaikan sistem pelaporan BOS untuk transpransi dan akuntabilitas
4. Merdeka Belajar Episode 4 (Program Organisasi Penggerak)
Adalah dengan memberdayakan organisasi kemasyarakatan untuk bergotong royong meningkatkan kualitas kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan agar tercipta transformasi ekosistem pembelajaran yang berorientasi pada murid.
5. Merdeka Belajar Episode 5 (Program Guru Penggerak)
Program guru penggerak dalam merdeka belajar merupakan program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan yang mewujudkan SDM unggul Indonesia.
Merdeka Belajar Episode 6 (Transformasi Dana Pemerintah untuk Pendidikan Tinggi)
1. Insentif berdasarkan capaian IKU (untuk PTN)
2. Matching fund untuk kerja sama dengan mitra (untuk PTN dan PTS)
3. Compertitive fund program kim
6. Merdeka Belajar Episode 7(Program Sekolah Penggerak)
Program sekolah dalam merdeka belajar adalah mengembangkan sekolah-sekolah katalis yang diawali dengan pemberdayaan kepala sekolah dan guru menjadi SDM unggul melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan intervensi yang holistik dalam hal pembelajaran perencanaan, digitalis, sampai pendampingan selama tiga tahun ajaran bagi sekolah negeri maupun swasta.
7. Merdeka Belajar Episode 8 (SMK Pusat Keunggulan)
Menghasilkan lulusan yang terserap didunia kerja atau berwirausaha melalui kesetaraan pendidikan vokasi dengan dunia kerja danmenjadi rujukan bagi SMK lainnya, melalui :
1. Keterlibatan idustri dalam proses pembelajaran
2. Pelatihan guru-guru kejuruan yang sesuai dengan standar industri
3. Pelatihan manajerial dan kepemimpinan kepala sekolah
4. Fasilitasi pembelajaran berbasis industri
5. Terlibatnya perguruan tinggi sebagai pendamping SMK agar terwujud link anda match yang semakin optimal.
9. Merdeka Belajar Episode 9 (KIP Kuliah Merdeka)
1. Memeberikan kemerdekaan bagi murid dari keluarga miskin dan rentan agar dapat kuliah pada program studi unggulan di perguruan tinggi terbaik
2. Menaikan alokasi biaya pendidikan yang dibayarkan kepada perguruan tinggi akan memberikan peluang kepada seluruh mahasiswa untuk memilih apapun program studi yang diminati sesuai dengan prestasi akademiknya.
3. Meningatkan bantuan biaya hidup untuk mendorong mobilitas sosial siswa penerima KIP Kuliah merdeka sehingga para siswa akan lebih percaya diri dan tidak ragu-ragu untuk mencari perguruan tinggi terbaik dikota-kota besar.
10. Merdeka Belajar Episode 10 (Perluasan Program Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
1. Program beasiswa kampus merdeka
2. Beasiswa bagi dosen, guru, dan tenaga kependidikan
3. Beasiswa program vokasi dan progaram prestasi
4. Beasiswa kebudayaan
11. Merdeka Belajar Episode 11 (Kampus Merdeka Vokasi)
1. Dana Kompetitif kampus vokasi (competitive fund vokasi), dengan program SMK-D2 jalur cepat dan program peningkatan prodi D3 menjadi sarjana terapan (D4)
2. Dana padanan kampus vokasi (matching fund vokasi) dengan program penguatan pusat unggulan teknologi (PUT) hilirisasi produk purwarupa/teknologi, start-up produk inovasi perguruan tinggi.
12. Merdeka Belajar Episode 12 (Sekolah Aman Berbelanja Bersama Siplah)
1. Tata keuangan yang baik karena semua transaksi didokumentasikan secara elektronik. Selain itu juga mendorong transparansi dan akuntabilitas.
2. Efisiensi anggaran dengan tingkat harga keseluruhan cenderung lebih rendah dan opsi penyediaan yang lebih banyak atau beragam
3. Membuka kesempatan bagi pelaku UMKM di daerah yang bisa berpartisipasi.
13. Merdeka Belajar Episode 13 (Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesiana)
1. Untuk pertama kalinya di Indonesia Kemdikbudristek menghadirkan platform media ekspresi, pustaka, serta promosi budaya yang terintegrasi dan dapat diakses melalui:
- Laman Indonesiana.tv.
- Siaran televisi jaringan Indihome saluran 200(SD) dan 916 (HD)
- Media sosial Indonesiana (Facebook, Twitter, Instgram, Tiktok, Youtube)
2.Kanal Indonesiana merupakan wadah ekspresi Merdeka berbudaya. Kanal Indonesiana bermitra denan masyarakat, serta Para pelaku seni dan komunitas seni budaya.
3. Kanal Indonesiana menyediakan pustaka audio visual keragaman budaya Indonesia
4. Kanal Indonesiana merupakan salah satu upaya mewujudkan visi pemajuan kebudayaan.
14. Merdeka Belajar Episode 14 (Kampus merdeka dari Kekerasan Seksual)
1. Pemenuhan hak pendidikan setiap WNI
2. Penanggulangan kekerasan seksual dengan pendekatan institusional dan berkelanjutan
3. Peningkatan pengetahuan tentang kekerasan seksual
4. Penguatan kolaborasi antara Kemendikbudristek dan perguruan tinggi.
15. Merdeka Belajar Episode 15 (Kurikulum Merdeka dan Platform merdeka Mengajar)
Adalah yang menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan dari proses pembelajaran, dan perbaikan kualitas pembelajaran, serta menjadi terobosan terbaru dalam membantu guru untuk saling terhubung berkolaborasi, dan berinspirasi dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila demi kemajuan pendidikan Indonesia.
Merdeka Belajar Episode 15 ini merupakan merdeka belajar yang berhubungan langsung dengan akselarasi mutu pembelaran dan peningkatan kualitas guru yaitu kurikulum dan platform merdeka belajar.
Demikian ringkasan merdeka belajar dari Episode 1 hingga sekarang memasuki episode 15, semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Sukses selalu.Sumber :
https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/
Akhmad Solihin June 02, 2022 CB Blogger Indonesia
%20Nomor%2013%20Tahun%202025.jpg)





















