Visiuniversal-blog---Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengeluarkan kebijakan ijazah digital atau e-ijazah pada tahun 2025. Kebijakan ini menandai berkembangnya transformasi digital di dunia pendidikan Tanah Air. yang akan terus dibenahi dalam rangka mendukung program pendidikan yang bermutu di Indonesia.
Lewat kebijakan ini, sekolah yang telah memenuhi syarat berwewenang untuk mencetak ijazahnya secara mandiri. Sehingga, proses pencetakan ijazah pun menjadi lebih cepat dan efisien.
Para guru turut dilibatkan dalam uji coba sistem verifikasi dan validasi (verval) e-ijazah. Namun, bagaimana cara login aplikasi e-ijazah? Simak panduan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Sekilas tentang E-Ijazah
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2024 tentang Ijazah Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, penerbitan ijazah harus memenuhi tiga prinsip utama, yakni validitas, akurasi, dan legalitas.
Selama ini, pelaksanaan penerbitan ijazah selalu mengalami kendala akibat sistem yang terus diperbaiki. Untuk mengatasi masalah tersebut, Kemendikdasmen memperkenalkan e-ijazah sebagai solusinya.
Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), penerapan e-ijazah bertujuan untuk meningkatkan efisiensi administrasi. Kebijakan ini juga dinilai mampu meminimalkan kesalahan dalam proses penerbitan ijazah.
Informasi penting disajikan secara kronologis
Lewat kebijakan e-ijazah, diharapkan proses penerbitan ijazah di Indonesia menjadi lebih efisien, aman, dan sesuai standar. Sehingga, sekolah dapat mempercepat distribusi ijazah kepada peserta didik.
![]() |
| https://ijazah.data.kemdikbud.go.id/dasbor/beranda |
Cara Login Aplikasi E-Ijazah
Untuk memastikan penerbitan ijazah berjalan lancar dan tanpa kesalahan, sekolah harus mengikuti dua tahap utama, yaitu verifikasi dan validasi data. Proses ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan keabsahan data peserta didik yang akan lulus.
Dalam prosesnya, pihak sekolah perlu login terlebih dahulu. Dirangkum dari unggahan YouTube berjudul Video Panduan Login Verval Manajemen E-Ijazah Tahun 2025 oleh Pak Munz, berikut cara login aplikasi e-ijazah dengan mudah:
Kunjungi link yang disediakan oleh Kemdikbud di https://referensi.data.kemdikbud.go.id/pd_akhir/. atau https://ijazah.data.kemdikbud.go.id/dasbor/beranda
Klik tombol "Login" yang ada di halaman utama aplikasi.
Pada halaman login, masukkan alamat email yang telah terdaftar sebagai akun verval. Pastikan email yang digunakan konsisten untuk kedua keperluan.
Bagi yang belum memiliki akun verval, dapat mendaftar melalui pusdatin.
Setelah login, pengguna dapat memeriksa data verifikasi, yang mencakup satuan pendidikan, peserta didik, residu NISN, residu kependudukan, dan residu kepala sekolah.
Pengguna juga dapat mengecek Daftar Nominasi Sementara (DNS) dan Data Nominasi Tetap (DNT). Fitur ini memungkinkan pengecekan cepat terhadap validitas data siswa.
Untuk mulai melakukan pengisian atau pengeditan, pengguna dapat memilih kategori jenjang pendidikan dan memfilter berdasarkan wilayah.
Aplikasi akan menampilkan jumlah peserta didik yang terdaftar di wilayah yang telah dipilih.
Pastikan data yang ditampilkan sesuai dengan data peserta didik kelas akhir di sekolah.
Dengan menggunakan aplikasi e-ijazah, pendidik dan pihak sekolah dapat memantau keabsahan data dengan mudah. Mereka bisa memastikan apakah semua siswa sudah tercatat dengan benar atau belum.
Tahap tahap dan langkah-langkah supaya bisa mengunduh SK Penetapan di E-ijasah
1. Buka aplikasi E-Ijasah lalu klik Data Referensi Kemendikbudristek
2. Lalu buka Manajemen Ijasah
3. Setelah masuk di manajemen ijasah klik DNS
4. Lalu klik Unggah SK Penetapan
5. Cari dan Lihat kelas 12 terus ada tulisan perhatian diakhir tulisan ada klik disini lalu klik disini
6. Lalu klik belum ditetapkan
7. Lalu akan muncul nama2x siswa didaftar siswa
8. Cari gambar pinsil di sebelah kiri dekat NISN do daftar nama siswa perhatikam siswa paket C kelas 12 ya
9. Lalu klik gambar pinsil tersebut lalu akan muncul nama siswa dan ada kolom kelulusan dibuka kolom kelulusan ada tulisan lulus dan tidak lulus lalu klik salah satunya
10. Setelah proses ini simpan
11. Lakukan terus ya proses nomer 10 baik yang siswa lulus maupun tidak lulus
12. Setelah selesai proses ini akan muncul tukisan unduh Format dan belum unggah SK di unggah SK Penetapan klik unduh Format dan belum unggah SK di unggah SK Penetapan klik unduh Format
13. Setelah klik unduh Format diprint ditandatangani dan stempel
14. Lalu konvert ke pdf kembali untuk di unggah SK di unggah sk penetapan
15. Selesai
LANGKAH-LANGKAH MUDAH MENGUNDUH SK PENETAPAN DI E-IJAZAH
Visiuniversal-blog---Dunia pendidikan terus berkembang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Salah satu pendekatan terbaru yang mulai diperkenalkan adalah Deep Learning, sebuah metode yang menekankan pemahaman mendalam terhadap konsep dan keterampilan. Namun, benarkah pendekatan ini akan menggantikan Kurikulum Merdeka?
Berdasarkan perkembangan terbaru dunia pendidikan di Indonesia diera kepemimpinan pak Prabowo dengan Menteri Pendidikan yang baru. Beberapa pihak menganggap Deep Learning sebagai kurikulum baru yang akan menggantikan Kurikulum Merdeka di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Namun, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Deep Learning bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang bertujuan memperdalam pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Dilansir dari Kompas.com, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa Deep Learning adalah strategi pembelajaran yang memberikan pengalaman lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa.
Apa Itu Deep Learning?
Deep Learning dalam konteks pendidikan bukanlah istilah yang sama dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), melainkan sebuah metode yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam. Pendekatan ini mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran, bukan sekadar menerima informasi secara pasif. Siswa diajak untuk menghubungkan teori yang dipelajari dengan dunia nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.
Tujuan utama dari Deep Learning adalah menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam, kritis, dan bermakna, dengan memperhatikan tiga elemen utama:
Mindful Learning (Pembelajaran Sadar): Menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan latar belakang siswa.
Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna): Mendorong siswa berpikir kritis dan aktif dalam pembelajaran.
Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan): Membuat pengalaman belajar lebih menyenangkan agar siswa lebih termotivasi.
Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada materi akademik, tetapi juga mengembangkan olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olahraga (kinestetik) secara terpadu.
Berpikir Kritis sebagai Kunci Deep Learning
Salah satu elemen penting dalam Deep Learning adalah kemampuan berpikir kritis (Critical Thinking), yang melibatkan:
Analisis: Memecah informasi menjadi bagian-bagian kecil untuk memahami hubungan dan struktur.
Evaluasi: Menilai kredibilitas sumber informasi dan argumen yang diajukan.
Interpretasi: Memahami makna dari informasi yang diberikan.
Sintesis: Menggabungkan berbagai informasi untuk membentuk pandangan baru.
Refleksi: Mengevaluasi cara berpikir sendiri serta mempertimbangkan bias dan asumsi pribadi.
Dengan berpikir kritis, siswa dapat lebih mandiri, mampu menyelesaikan masalah, dan lebih siap menghadapi tantangan di dunia nyata.
Langkah Implementasi Deep Learning
Agar pendekatan Deep Learning dapat diterapkan secara efektif di sekolah, diperlukan langkah-langkah strategis, di antaranya:
Sosialisasi konsep Pembelajaran Mendalam kepada guru, siswa, dan wali murid.
Pelatihan guru untuk menerapkan metode ini dalam kegiatan belajar mengajar.
Penyediaan infrastruktur pendukung, seperti sumber belajar yang lebih interaktif dan fleksibel.
Integrasi teknologi digital dalam pembelajaran untuk memperkaya pengalaman belajar.
Monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas penerapan Deep Learning di sekolah.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti berharap bahwa pendekatan Deep Learning yang lebih humanis ini dapat membantu mengembangkan 8 dimensi profil lulusan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan, yaitu keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Mengenal lebih dalam Konsep Pembelajaran Deep Learning
Deep learning dalam konteks pendidikan merujuk pada pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa melalui pengalaman belajar yang lebih mendalam dan bermakna. Istilah ini sebenarnya lebih dominan digunakan dalam teknologi kecerdasan artifisial, yang merujuk kepada model jaringan saraf tiruan (artificial neural networks) yang berfungsi untuk meniru cara manusia berpikir dan belajar yang memungkinkan pemrosesan data dalam jumlah besar dilakukan secara efisien dan akurat. Beberapa bukti dominasi istilah deep learning dalam dunia kecerdasan artifisial dapat dikonfirmasi melalui pencarian di basis data Scopus yang menyarankan artikel-artikel tentang artificial intelligence.
Selain itu, berdasarkan penelusuran pada repository buku digital, kata kunci deep learning juga masih dikenali sebagai istilah AI. Tidak satupun dari hasil yang mengarah kepada pendidikan. Gambar di atas merupakan dua buku tentang deep learning.
Konsep Pembelajaran Deep Learning dalam Pembelajaran
Makna literal dari deep learning sendiri adalah pembelajaran mendalam. Jika istilah tersebut diadopsi ke dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, maka akan berarti pendekatan atau metode pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam terhadap materi pelajaran dengan berlandaskan pada pelinatan proses berpikir kritis. Dengan kata lain, deep learning akan sangat tergantung pada variabel berpikir kritis atau 'critical thinking'.
Berpikir Kritis (Critical Thinking)
Istilah berpikir kritis atau "critical thinking" populer pada abad ke-20. Oleh filsuf Amerika, John Dewey, istilah tersebut disebut dengan berpikir reflektif atau "reflective thinking" yang menekankan pada pentingnya pemikiran aktif dan kritis dalam mempertimbangkan keyakinan dan pengetahuan yang ada. Ia berargumen bahwa berpikir kritis merupakan bagian integral dari pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan individu menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Critical thinking terdiri dari beberapa komponen kunci yang saling terkait, antara lain:
Analisis: Kemampuan untuk memecah informasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil untuk memahami struktur dan hubungan antar bagian tersebut.
Evaluasi: Menilai kredibilitas sumber informasi dan kekuatan argumen yang diajukan.
Interpretasi: Memahami makna dari informasi atau argumen yang disajikan.
Sintesis: Menggabungkan berbagai informasi untuk membentuk pandangan atau argumen baru.
Refleksi: Merenungkan proses berpikir sendiri dan mempertimbangkan bias serta asumsi pribadi.
Mengadopsi Paradigma Konstruktivisme
Deep learning dalam dunia pendidikan menekankan bahwa pengetahuan itu dibangun atau dikonstruk berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Secara epistemologis, konsep ini dikenal dengan konstruktivisme. Dalam paradigma ini, peserta didik belajar melalui integrasi pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki sehingga model mental tentang realitas berubah secara perlahan.
Menekankan Pencarian Makna yang Mendalam
Konsep ini juga menekankan pada pencarian makna yang mendalam melalui rangkaian aktivitas belajar yang mendalam. Dalam hal ini, makna tidak dipaksakan dan tidak ditransmisikan melalui instruksi langsung, melainkan disampaikan melalui kegiatan pembelajaran mendalam melalui rangkaian aktivitas yang mengungkap makna dari konsep-konsep abstrak dalam materi pembelajaran. Peserta didik mengikuti proses belajar dengan niat untuk memahami dan mencari makna. Aktivitas belajar disusun dengan mempertimbangkan proses yang memicu dan memacu peserta didik untuk bmenggunakan konsep berpikir kritis dalam mencari hubungan antara materi dan menginterpretasikan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan struktur pengetahuan dan pengalaman yang telah didapatkan sebelumnya.
Metakognisi dan Discovery Learning
Metakognisi merujuk kepada kemampuan individu untuk menyadari dan mengendalikan proses berpikir yang meliputi bagaimana seseorang belajar, berpikir, dan memecahkan masalah. Discovery learning sendiri menekankan pada proses pembelajaran yang berbasis pada pemecahan masalah, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Istilah discovery learning sering digunakan dalam situasi yang memerlukan pemahaman konsep-konsep abstrak atau rumit, karena memungkinkan peserta didik untuk dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman praktis.
Keuntungan utama dari discovery learning adalah meningkatkan keterlibatan peserta didik dan memperdalam pemahaman mereka karena mereka tidak hanya menerima informasi secara pasif tetapi aktif membangun pengetahuan mereka sendiri. Berdasarkan informasi tersebut, diketahui bahwa peran pendidik dalam hal ini bukan sebagai sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator yang membantu dan mengarahkan peserta didik terhadap pencarian makna berdasarkan rangkaian pembelajaran.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan konsep di atas, Deep Learning bukanlah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka, melainkan sebuah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, berpikir kritis, dan pembelajaran yang lebih menyenangkan. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan sinergi antara guru, siswa, orang tua, dan lingkungan sekolah agar pendidikan yang lebih bermakna dan relevan dapat terwujud.
So sudah siapkah Ayah Bunda, Bapak dan ibu Guru menerapkan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di sekolah?
Baca juga Pembelajaran Mendalam Deep Learning di PAUD Pendidikan Anak Usia dini.
Sumber dan referensi:
https://www.kompas.com/edu/read/2024/11/11/082738471/mendikdasmen-deep-learning-bukan-kurikulum-tapi-pendekatan-belajar
https://www.ruangguru.com/blog/pendekatan-deep-learning
https://fahum.umsu.ac.id/blog/pengertian-deep-learning-diperkirakan-sebagai-pengganti-kurikulum-merdeka-belajar/
https://s2pendidikanbahasainggris.fbs.unesa.ac.id/post/mengenal-konsep-pembelajaran-deep-learning
https://www.kompas.com/skola/read/2023/12/05/160000469/pengertian-berpikir-kritis-menurut-para-ahli?lgn_method=google&google_btn=onetap
https://pendidikan.id/news/mengenal-deep-learning-pendekatan-pembelajaran-mendalam-solusi-perubahan-masa-depan-yang-sulit-diprediksi/
Akhmad Solihin March 03, 2025 CB Blogger Indonesia
Mungkinkah “Deep Learning” Menggantikan Kurikulum Merdeka?
Visiuniversal-Blog---- sebagaimana kita ketahui Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya. Banyak ditemukan pengkajian dan praktik-praktik metafisika yang mencengangkan dengan berbagai keunikan dan keajaiban yang mengikuti aktivitas metafisika ini, bahkan terkadang bisa sampai berada diluar nalar manusia.
Di dalam filsafat, pertanyaan tentang susunan serta hakekat dari segala yang ada adalah salah satu pertanyaan terpenting. Pertanyaan ini menjadi dasar dari seluruh filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi modern, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Salah satu filsuf yang mencoba menjawab pertanyaan ini secara sistematik adalah Aristoteles.
Aristoteles adalah murid Plato. Ia menulis buku dengan judul Ta meta ta physika, atau Metafisika, pada 340 sebelum Masehi. Buku ini bukanlah sebuah karya utuh, melainkan kumpulan tulisan pendek dari Aristoteles. Ia menamai kumpulan tulisan tersebut sebagai “filsafat pertama”.
Akhmad Solihin February 27, 2025 CB Blogger Indonesia
Pengertian dan definisi Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya. Kajian mengenai metafisika umumnya berporos pada pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan sifat-sifat yang meliputi realitas yang dikaji. Pemaknaan mengenai metafisika bervariasi dan setiap masa dan filsuf tentu memiliki pandangan yang berbeda. Secara umum topik analisis metafisika meliputi pembahasan mengenai eksistensi, keberadaan aktual dan karakteristik yang menyertai, ruang dan waktu, relasi antarkeberadaan seperti pembahasan mengenai kausalitas, posibilitas, dan pembahasan metafisis lainnya.
Mengingat jangkauan kajian yang dipusatkannya, metafisika menjadi sebuah disiplin yang fundamental dalam kajian filsafat. Sepanjang sejarah kefilsafatan, metafisika menjangkau problem-problem klasik dalam filsafat teoretis. Umumnya kajian metafisika menjadi "batu pijakan" atas struktur gagasan kefilsafatan dan prinsip-prinsip yang lebih kompleks untuk menjelaskan problem lainnya. Sehingga, dalam pemahaman metafisika klasik, metafisika membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar yang jawaban-jawaban atasnya dapat digunakan menjadi dasar bagi pertanyaan yang lebih kompleks.[butuh rujukan] Misalnya: adakah maksud utama dalam beradanya dunia ini? Lalu apakah keberadaannya sebatas keberadaan yang "mengada" atau dependen terhadap keberadaan lainnya?; Apakah tuhan/tuhan-tuhan ada? Lalu, jika ada, apa saja hal-hal yang bisa manusia tahu/tidak tahu tentangnya?; Benarkah terdapat hal semacam intellectus, terutama dalam pembahasan mengenai pembedaan antara problem pemisahan entitas jiwa badan?; Apakah jiwa sesuatu yang nyata, dan apakah ia berkehendak bebas?; Apakah segalanya tetap atau berubah? Apakah terdapat hal atau relasi yang selalu bersifat tetap yang bekerja dalam berbagai fenomena?; dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sejenis.
Objek bahasan metafisika bukan semata-mata hal-hal empiri atau hal-hal yang dapat dijangkau oleh pengamatan individual, melainkan hal-hal atau aspek-aspek yang menjadi dasar realitas itu sendiri. Klaim-klaim atas metode dan objek kajian metafisika telah menjadi problem perenial kefilsafatan.
Pembahasan mengenai metafisika memiliki berbagai subbahasan. Misalnya pembahasan sentral metafisika adalah ontologi, yaitu proses analitis dan penggalian klasifikasi berdasarkan prinsip-prinsip kategori keberadaan dan relasi di antaranya. Bahasan sentral lainnya adalah kosmologi metafisik, yaitu kajian mendalam atas prinsip keberadaan dunia, realitas, asal mula, dan makna keberadaan atasnya.
Sejarah dan Konsep Metafisika
Kata "metafisika" dicatut dari set karya Aristoteles yang terdiri dari 14 kelompok karya tentang problem-problem filosofis. Pada mulanya tidak terdapat nama untuk merujuk kajian kefilsafatan ini, hingga Andronikus dari Rodesia menyusun karya-karya filsafat Aristotelian dengan delapan buku di luar label "Fisika" dinamai t? et? t? f?s??? ? ??a (t met t Physika biblia; buku/karya (yang adalah) setelah/disamping F?s??? ????as?? (Phusike akroasis)).[butuh rujukan] Sehingga timbul istilah "Metafisika" yang, secara turun temurun berbelok maknanya dan dimengerti sebagai "sesuatu/ilmu di balik fisika/kulit terluar (yang menutupi sesuatu)".
Terdapat berbagai pemahaman atas maksud kata Metafisika sebenarnya dan menjadi problem bagi para filsuf dan sejarawan hingga kini. Sehingga makna sebenarnya masih belum jelas, mengingat Arisoteles pun tidak menggunakan istilah tersebut untuk menamai teori-teori metafisikanya. Kata "Metafisika" tidak pernah pun jika pernah ada di masa Aristotelian dipakai oleh Aristoteles sendiri, melainkan sering kali ia rujuk sebagai "filsafat awal".[butuh rujukan]
Akan tetapi, para cendekiawan dan komentator mulai mempertanyakan dan mencari arti intrinsik di balik kepantasan atas kesesuaian nama yang diberikannya. Kegiatan beberapa cendekiawan abad ke-20 turut mengarahkan arti alternatif atas metafisika itu sendiri. Pemahaman-pemahaman abad Renaisans melahirkan ide-ide baru seperti meta-bahasa atau penyangga korpus kefilsafatan dan membuat metafisika dipahami sebagai "ilmu atas dunia di luar physis (f?s??, biasanya diterjemahkan sebagai 'alam')."Kajian physis yang dimaksud umumnya berkenaan dengan hal-hal yang melampaui hal-hal keduniaan yang, secara umum, dapat dipahami sebagai ilmu atas hal-hal imaterial (seperti alam kajian Newton, Einstein, atau Heisenberg). Lain halnya dengan Thomas Aquinas yang merujuk metafisika sebagai ilmu tinggi dari urutan kronologi atau pedagogi tahap studi filsafat. Sehingga ilmu metafisika dipahami sebagai "hal yang dipelajari setelah menguasai ilmu-ilmu yang berurusan dengan hal-hal fisik."[4] Akan tetapi, dari semua konsepsi yang telah disebutkan, tidak ada suatu definisi yang disepakati di lintas ilmu kefilsafatan. Dalam karya Aristoteles, bagian karya yang disebut pasca-Fisika tersebut menggambarkan hal yang "tidak mengalami perubahan."
Sejak abad pascaklasik dan abad pertengahan, studi metafisika telah disebut sebagai disiplin filsafat yang berdiri sendiri. Pada abad pertengahan, studi metafisika diberi nama ?p?pte?a (epopte a; melihat, mencerap, memahami). Di sisi lain, kata sifat metafisis, terutama pada abad-abad pencerahan dan abad XIX, biasanya digunakan sebagai julukan dan kata populer untuk menamai sesuatu hal sebagai hal yang "berbau spekulasi", "tidak ilmiah", "totalitarian", atau "pemahaman tidak empiris".
Penolakan terhadap metafisika
Dalam perkembangannya, terma dan ide mengenai metafisika terus menerus berubah. Beberapa pemikir memulai diskursus dan tanda-tanda kematian-kematian metafisika dengan penolakan dan pembuktian atas kesia-siaan dan ketidakterjangkauannya. David Hume, misalnya, secara keras menyatakan bahwa pengetahuan sejati (genuine knowledge) dibentuk tak lain selain fakta dan rerangkai matematis. Sehingga, terlepas dari keduanya, pengetahuan tersebut salah dan tidak menyatakan realitas.[5] Di lain hal, Immanuel Kant dalam Critique of Pure Reason menyatakan bahwa, tidak seperti Hume yang menolak mentah-mentah pengetahuan selain hal yang empiris dan terukur, terdapat suatu lokus pengetahuan yang disebut sintetis a priori.[6] Menurut Kant, terdapat suatu pengetahuan sejati yang terdiri atas fakta-fakta pengetahuan yang independen, lepas dari pengalaman empiris seperti pengetahuan atas ruang, waktu, dan kausalitas. Klaim Hume pun ditolak dengan pemahaman Kantian bahwa terdapat sesuatu hal yang lepas dari keterjangkauan manusia yang sepenuhnya independen dan asali, sehingga klaim Hume gagal untuk memahami adanya noumenon, esensi yang "ada dalam dirinya sendiri" (an Sich).
Kemudian, penolakan selanjutnya diutarakan oleh pengusung verifikasionisme seperti A. J. Ayer dan Rudolf Carnap. Menimbang pernyataan Hume, menurut verifikasionisme, pernyataan metafisis bukan bernilai benar atau salah, melainkan tak bermakna. Karena suatu hal akan bermakna jika hal tersebut terdapat bukti empiris yang dapat dijangkau dan korespondensi ide dengan realitas.[7]
Perdebatan mengenai status kajian metafisis sebagai bidang ilmu menunjukkan ketiadaannya kesatuan internal dalam pemahaman definitif maupun kontekstual. Akan tetapi argumen mengenai hakikat keberadaan metafisika sebagai bahan kajian tak lepas dari statusnya sebagai bidang ilmu.[butuh rujukan] Mungkin saja tak ada hal semacam metafisika sebagai bidang studi. Atau mungkin, seperti kebanyakan filsuf, pernyataan metafisis tak bernilai salah ataupun benar. Atau sebaliknya, teori metafisis memiliki nilai kebenaran, akan tetapi tak dapat terjangkau oleh lemahnya manusia. Hal-hal tersebut adalah pernyataan-pernyataan umum atas keberadaan metafisika.
Eksistensi dan kesadaran
Representasi kesadaran dari abad ke-17.
Eksistensi, sebagai salah satu sub-kajian ontologi, adalah suatu konsep yang aksiomatik dasar pertama yang tak didasari oleh premis yang lebih sederhana/tak dapat direduksi menjadi premis yang lebih sederhana. Eksistensi tak dapat dilepaskan dari semua kajian pengetahuan dan tak dapat dikenai penolakan atasnya. Pembicaraan atas ketiadaan eksistensi, misalnya, adalah pembicaraan atas eksistensi itu sendiri. Premis eksistensi adalah ada (eksis) membuktikan bahwa konsep tersebut adalah aksioma yang menyatakan bahwa terdapat sesuatu/keberadaan, ketimbang ketiadaan.
Kesadaran, di lain hal, adalah kualitas dan kemampuan menerima dan mengidentifikasi keberadaan yang eksis baik dirinya sendiri maupun di liar dirinya.[10] Dalam sejarah kefilsafatan dan keilmuan secara umum, kesadaran telah didefinisikan, diasosiasikan, dan dipahami sebagai ke-berakal-an, kesadaran, qualia, subjektivitas, kontrol eksekutif pada budi, dan terma lainnya.[10][11] Dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy, kesadaran diabstraksi menjadi pengetahuan, introspeksi (dan segala pengetahuan yang diproduksi dari proses introspeksi itu sendiri, intensionalitas, dan pengalaman atas fenomena.[12]
Formulasi proposisi cartesian cogito ergo sum misalnya, membuktikan bahwa kesadaran adalah hal yang aksiomatik. Hal tersebut karena tidak seorangpun dapat menolak keberadaan pikirannya sendiri, dan di saat yang sama penolakan tersebut menggunakan kesadaran untuk menolak keberadaan pikirannya sendiri. Akan tetapi, Descartes tak mampu untuk menjelaskan dengan jelas mengenai apa itu kesadaran itu sendiri. Beberapa pemikir selanjutnya mendefinisikan konsepsi kesadaran sebagai perseptor atas hal yang ada, sehingga kesadaran memerlukan hal di luar dirinya untuk berfungsi. Sehingga, kesadaran diderivasi oleh/bergantung terhadap eksistensi. Identitas
Konsep identitas adalah relasi tiap-tiap hal yang merujuk pada dirinya sendiri.[13] Dalam artian lain, identitas adalah suatu hal yang membuat sebuah entitas dapat dikenali dan diuraikan dengan set kualitas atau karakteristik yang membedakan dirinya dengan entitas lainnya. Sehingga, menilik prinsip ketidakberbedaan ontologis Leibniz: jika x identik dengan y, maka segala kualitas yang dimiliki x juga dimiliki y.
Hukum identitas pertama Aristotelian menyatakan bahwa untuk mengada, sebuah eksisten mesti memiliki identitas unik. Sebuah eksisten tidak dapat disebut sebagai sebuah keberadaan tanpa mengada sebagai sesuatu. Konsep identitas penting karena menjelaskan bahwa realitas memiliki sifat yang berbatas, sehingga dimungkinkan untuk diketahui.
Referensi
^ a b van Inwagen, Peter; Sullivan, Meghan (2016-01-01). Zalta, Edward N., ed. "Metaphysics" (2016 ed.). Metaphysics Research Lab, Stanford University, The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
^ a b Schmidinger, H. M. (1954). Metaphysik : ein Grundkurs. Kohlhammer. ISBN 3-17-016308-6.
^ Lih. physis dalam Wiktionary.
^ Aquinas, Thomas; Schultz, Janice L.; Synan, Edward A.; Boethius (2001). An exposition of the On the hebdomads of Boethius : Expositio libri Boetii De ebdomadibus. Thomas Aquinas in Translation. V (original scripture). Catholic University of America Press.
^ Hume, David (1948). "132". An Enquiry Concerning Human Understanding.
^ Kant, Immanuel (1985). "B20". Critique of Pure Reason, trans. Norman Kemp Smith. Macmillan Press.
^ Carnap, Rudolf (1935). "The Rejection of Metaphysics". Philosophy and Logical Syntax.
^ Pertanyaan ini merujuk pada Grundfrage der Metaphysik Heidegger, Martin (2000). Einf hrung in die Metaphysik, trans. Gregory Field & Richard Polt. Yale University Press.
^ Dalam hal ini, kata "ada" dimaknai sebagai sesuatu yang mengada secara ontologis. Terdapat berbagai pemahaman atas Ada yang dirujuk dalam filsafat Heideggerian. Untuk lebih lengkap, lihat pula berbagai problem fundamental dalam fenomenologi. Lihat pula Klostermann, Vittorio (ed.). Heidegger Gesamtausgabe. " interpreted the ancient philosophy and understands the being of beings, the reality of the real, as a presence that reality constituted of reality, the ideas [are] according to Plato himself the true reality."
^ a b van Gulick, Robert (2004-06-24). "Consciousness". The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
^ William., Farthing, G. (1992). The Psychology of Consciousness. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall. ISBN 978-0-13-728668-3.
^ Lormand, Eric (1996). "Consciousness". Di Craig, Edward. Routledge Encyclopedia of Philosophy.
^ Noonan, Harold; Curtis, Ben (2004-12-15). "Identity". The Stanford Encyclopedia of Philosophy.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Metafisika
PENGERTIAN METAFISIKA SEBAGAI CABANG FILSAFAT
Pengertian Generasi Millennial
Visiuniversal-Blog. Generasi millennial merupakan bagian dari perkembangan dan perumbuhan yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sehingga menimbulkan perubahan yang berjalan sangat cepat.
Istilah generasi millennial sendiri ditemukan oleh seorang peneliti ahli demografis bernama Willian Straus dan Neil Howe.Generasi millennial dikenal juga dengan sebutan generasi Y yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000. Generasi yang muncul setelah generasi ini adalah generasi Z.
PENGERTIAN DAN HAKIKAT GENERASI MILENIAL

Motivasi sangat
penting dalam menentukan produktivitas kerja seseorang, baik kerja perorangan
maupun kerja kelompok. Menurut Reksohadiprodjo (1991:256), “motivasi adalah
keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk
melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan”, motivasi
dalam suatu organisasi mencakup dua kekuatan: internal dan eksternal. Anoraga
(2001:34), mengemukakan, “dalam pengertian umum, motivasi dikatakan sebagai
kebutuhan yang mendorong perbuatan ke arah suatu tujuan tertentu”. Sementara
itu Bernard Berelson dan Gary A. Stainer (Sinungan, 2003:134), menyatakan
“motivasi adalah keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan
energi, mendorong kegiatan atau gerakan dan mengarah atau menyalurkan perilaku
ke arah mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan atau mengurangi ketidak
seimbangan”. Oleh karena itu motivasi dapat diartikan sebagai bagian integral
dari hubungan/industrial dalam rangka proses pembinaan, pengembangan dan
pengarahan sumber daya manusia dalam suatu perusahaan.
Munandar (2001:323), menyimpulkan
bahwa ”motivasi adalah suatu proses di mana kebutuhan-kebutuhan mendorong
seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah ke tercapainya
tujuan tertentu”. Robin (2001:187), mengemukakan unjuk kerja (performance) adalah hasil dari interaksi
antara motivasi kerja, kemampuan (abilities)
dan peluang (opportunities), dengan
perkataan lain unjuk kerja adalah fungsi
dari motivasi kerja kali kemampuan kali peluang. Bila motivasi rendah, maka
unjuk kerja/produktifiasnya akan rendah pula meskipun kemampuannya ada dan
baik, serta peluangnya pun tersedia.
Motivasi kerja
menurut Anoraga (2001:35), “sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan kerja”. Sementara itu
Wexley & Yukl (As’ad,2002), memberikan batasan mengenai motivasi sebagai “the
process by which behavior is energized and directed”. Bahwa apa yang
dikemukakan Wexley dan Yukl tersebut “merupakan pemberian dan penimbulan
motif”. Jadi Motivasi kerja adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau
dorongan kerja. Oleh sebab itu motivasi kerja dalam psikologi karya biasa
disebut pendorong semangat kerja. Kuat dan lemahnya motivasi kerja seseorang
ikut menentukan besar kecilnya prestasi.
Dalam hubungan dengan perilaku organisasi maka motif-motif yang relevan menurut Wexley & Yukl (1977:99) mengemukakan beberapa kebutuhan, antara lain: kebutuhan kelangsungn hidup, kebutuhan keamanan, kebutuhan berkelompok, kebutuhan penghargaan, kebutuhan kebebasan, dan kebutuhan kecakapan dan keberhasilan. Namun hasil penelitian Mc Clelland tahun 1961 dan para psikolog lainnya (Wexley & Yukl, 1977:101) menunjukkan bahwa:
… seseorang yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap keberhasilan lebih menyukai suatu pekerjaan yang memiliki ciri-ciri: (1) pelaksanaan kerjanya banyak ditentukan oleh usaha serta kemampuan yang dimiliki dirinya dari pada faktor-faktor kebetulan di luar pengendalian dirinya atau atas kerja sama, (2) pekerjaan serta tugas-tugas cukup sulit dari pada yang mudah atau tidak mungkin, (3) terdapat umpan balik nyata yang sering tentang seberapa baik ia melaksanakannya.
Pinder
(1997:11), sepakat dengan beberapa ahli lain seperti M.R. John; Locke, Shaw,
Saari, dan Latham; Steers dan Porter; dan Vroom bahwa: “Work motivation is a
set of energetic forces that originate both within as well as beyond an
individual’s being, to initiate work-related behavior, and to determine its
form, direction, intensity, and duration”.
Reksohadiprodjo (1991:256), “motivasi
merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan
setiap anggota organisasi berbeda”. Setiap anggota suatu organisasi ‘unik’
baik biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang
berbeda pula.
Para
ahli psikologi menyetujui bahwa motivasi dapat dikelompokkan dalam 2 kelompok,
yaitu: (a) motivasi fisiologis, yang merupakan motivasi alamiah seperti lapar,
dan haus, (b) motivasi psikologis, yang dapat dikelompokkan: motivasi kasih
sayang, motivasi mempertahankan diri, motivasi memperkuat diri.
Teori
tata tingkat kebutuhan dari Maslow (Munandar, 2001:326), merupakan teori
motivasi yang sangat dikenal secara luas. Maslow berpendapat bahwa kondisi
manusia berada dalam kondisi mengejar yang bersinambungan. Artinya, jika satu kebutuhan telah terpenuhi,
diikuti oleh kebutuhan berikutnya. Proses berkeinginan ini tanpa henti sejak manusia lahir
sampai meninggal. Kebutuhan-kebutuhan yang dimaksud adalah: kebutuhan faali (physiological), rasa aman, sosial, harga
diri, dan aktualisasi diri.
Motivasi kerja adalah suatu dorongan secara psikologis kepada seseorang yang menentukan arah dari perilaku (direction of behavior) dalam organisasi dan tingkat usaha (level of effort) serta gigih dalam menghadapi suatu masalah (level of persistence).
Motivasi kerja adalah pendorong dalam diri seseorang untuk berperilaku dan bekerja dengan giat sesuai dengan tugas dan kewajiban yang telah diberikan kepadanya.
Pengertian Motivasi Kerja Menurut Para Ahli
Pengertian motivasi kerja menurut para ahli yang dapat kamu ketahui adalah sebagai berikut:
1. Uno (2012)
Motivasi kerja adalah kekuatan dalam diri orang yang akan memengaruhi arah, intensitas, dan ketekunan perilaku seseorang untuk melakukan pekerjaannya.
2. Wibowo (2014)
Motivasi kerja adalah proses psikologis yang membangkitkan, mengarahkan, dan tekun dalam melakukan tindakan yang diarahkan untuk mencapai tujuan.
3. Miftahun dan Sugiyanto (2010)
Motivasi kerja adalah suatu usaha yang dapat menimbulkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku yang sesuai dengan lingkungan kerjanya.
4. Robbins dan Judge (2013)
Motivasi kerja adalah kesediaan untuk mengeluarkan upaya ke arah tujuan-tujuan dalam suatu organisasi. Hal ini tentu dikondisikan oleh kemampuan upaya tersebut untuk memenuhi suatu kebutuhan individu.
5. Pinder (2013)
Motivasi kerja adalah kekuatan baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri seseorang yang mendorongnya untuk memulai berperilaku kerja, sesuai dengan arah, intensitas, dan dalam jangka waktu tertentu.
Salah satu indikator motivasi kerja adalah kemauan.
Unsur-Unsur Motivasi Kerja
Menurut Sagir dalam Siswanto Sastrohadiwiryo (2003) motivasi kerja memiliki beberapa unsur-unsur. Unsur-unsur tersebut antara lain:
kinerja
penghargaan
tantangan
tanggung jawab
pengembangan
ketertiban
kesempatan
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi motivasi kerja, antara lain:
Pencapaian dalam menyelesaikan tugas atau pekerjaan berdasarkan pada tujuan dan sasarannya
Penghargaan terhadap pencapaian tugas dan sasaran
Sifat dan ruang lingkup pekerjaan
Adanya peningkatan tanggung jawab
Supervisi
Hubungan antar perseorangan
Kondisi kerja
Gaji
Status
Keamanan kerja
Faktor di atas tentu akan menentukan tinggi rendahnya motivasi kerja setiap karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan. Faktor lain yang dapat memengaruhi motivasi kerja seperti upah yang sesuai dengan kinerja dan jaminan hari tua. Apabila kedua hal tadi terdapat di perusahaan, hal ini akan meningkatkan motivasi kerja karyawannya juga.
Baca Juga: Manajemen SDM: Pengertian, Tujuan, dan Fungsi
8 Indikator Motivasi Kerja
Berikut ini indikator motivasi kerja yang dapat memengaruhi kinerja karyawan secara langsung, antara lain:
1. Daya Pendorong
Daya pendorong adalah naluri untuk menggerakkan seseorang agar mampu berperilaku secara tepat dalam mencapai tujuan. Cara yang digunakan oleh setiap individu pun pasti berbeda-beda sesuai dengan latar belakang kebudayaan dan kebiasaan.
2. Kemauan
Kemauan adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena pengaruh dari luar, seperti orang lain atau lingkungan. Kemauan ini merupakan bentuk reaksi akibat adanya tawaran dari pihak lain.
3. Kerelaan
Kerelaan adalah sebuah bentuk persetujuan atas permintaan dari orang lain. Kebiasaan ini sering terjadi di dalam perusahaan ketika terdapat karyawan yang ingin membantu temannya bekerja padahal seharusnya bukan dia yang mengerjakan pekerjaan tersebut.
4. Membentuk Keahlian
Membentuk keahlian menjadi suatu bentuk proses dari pembentukan. Perlu proses untuk membentuk keahlian agar mendapatkan kemampuan dalam suatu bidang ilmu tertentu. Bila seseorang sudah memiliki keahlian, sebaiknya keahlian itu terus diasah agar semakin kuat dan terampil.
5. Membentuk Keterampilan
Membentuk keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan berbagai pola tingkah laku yang kompleks, tetapi tetap tersusun rapi.
Indikator ini tidak hanya mencakup gerakan motorik setiap individu saja, tetapi juga dari sisi mental yang dapat dicapai atau tidak.
6. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah akibat lebih lanjut dari pelaksanaan kewajiban yang diemban oleh setiap karyawan.
7. Kewajiban
Kewajiban adalah sesuatu hal yang wajib dilaksanakan oleh setiap karyawan. Kewajiban ini harus dikerjakan dengan optimal.
8. Tujuan
Tujuan menjadi tahap akhir yang ingin dicapai oleh perusahaan agar dapat memberikan hasil kerja terbaik.
Baca Juga: Mengenal Tujuan dan Metode Pengembangan SDM bagi Perusahaan
Cara Meningkatkan Motivasi Kerja Bagi Karyawan
Di bawah ini, kamu akan menemukan cara meningkatkan motivasi kerja bagi karyawan, antara lain:
1. Lingkungan Kerja Aman dan Nyaman
Cara untuk meningkatkan motivasi kerja ini dengan membuat ruangan kerja tempat karyawan beraktivitas sehari-hari terasa nyaman.
Berikanlah beberapa fasilitas yang dapat digunakan oleh karyawan seperti coffee maker atau ruang santai untuk beristirahat sejenak. Selain itu, pastikan ruang kerja mereka memiliki sistem pencahayaan, sirkulasi udara, dan keamanan yang mendukung.
2. Memberikan Pelatihan untuk Pengembangan Diri
Supaya karyawan dapat bekerja secara optimal untuk mencapai tujuan, perusahaan pun dapat memberikan pelatihan yang dapat membantu mereka untuk mengembangkan kemampuannya.
Berikanlah pelatihan yang sesuai dengan skill atau ketertarikan mereka akan sesuatu agar potensi di dalam diri mereka dapat berkembang.
3. Mengadakan Outing
Untuk kembali membangkitkan motivasi kerja karyawan yang setiap hari bekerja sehingga perusahaan dapat mengadakan kegiatan outing. Cara ini dapat membuat karyawan refreshing sejenak dan dapat membantu karyawan untuk saling mengenal sesama rekan kerjanya.
4. Memberikan Upah Sesuai Beban Kerja dan Keahlian
Karyawan akan semakin termotivasi bila mereka mendapatkan upah yang sesuai dengan beban kerja dan keahlian yang mereka miliki.
5. Memberikan Jenjang Karier yang Jelas
Selain pemberian upah yang sesuai dengan beban kerja dan keahlian, banyak karyawan yang memiliki motivasi kerja dari adanya jenjang karier yang jelas. Setiap karyawan di semua perusahaan tentu menginginkan jabatan seiring dengan perkembangan potensi yang mereka miliki dan kinerja yang semakin baik dengan ditunjukkan melalui suatu prestasi.
Dengan adanya jenjang karier yang jelas, hal ini membuat karyawan semakin semangat dalam bekerja.
6. Memberikan Apresiasi
Memberikan apresiasi kepada karyawan yang telah berhasil melakukan pekerjaan yang berat dan sulit agar mereka merasa dihargai serta termotivasi untuk memberikan usaha lebih demi memajukan dan mencapai tujuan perusahaan.
7. Berikan Perhatian pada Karyawan
Untuk membangun motivasi kerja bagi setiap karyawan, lebih baik seorang atasan memberikan perhatian untuk karyawannya. Tingkatan kepedulian dan perhatian kepada karyawan sebaiknya masih dalam batas yang wajar juga.
Baca Juga: Rekrutmen adalah: Pengertian, Tujuan, dan Proses
Contoh Motivasi Kerja Saat Interview Kerja
Tak sedikit orang yang kebingungan untuk menjawab motivasi kerja di saat interview kerja. Alasan recruiter menanyakan motivasi kerja ini agar recruiter mengetahui lebih banyak mengenai kandidat yang sedang mereka interview. Nah, berikut ini beberapa contoh motivasi kerja yang bisa kamu sampaikan saat interview, yaitu:
1. Jawaban yang Realistis
Jawaban yang realistis saat interview haruslah jujur dan tidak berorientasi pada uang. Dengan begitu, perusahaan bisa melihat kandidatnya memang ingin bergabung untuk tujuan mengembangkan karir di perusahaan tersebut.
Kamu bisa menjawab pertanyaan recruiter dengan kalimat berikut ini:
“Selain untuk mendapatkan pekerjaan baru, motivasi saya melamar kerja di perusahaan ini adalah ingin memberikan kontribusi yang positif terhadap perusahaan. Saya juga ingin menyalurkan dan mengembangkan skill dan pengetahuan yang saya miliki.”
2. Jawaban Optimistis
Selain percaya diri dan jujur, kamu bisa memberikan jawaban motivasi kerja yang optimis.
Kamu bisa menjawab pertanyaan recruiter dengan optimistis, misalnya:
“Saya ingin menjalin relasi dengan orang baru dan membantu rekan kerja untuk mencapai target dan tujuan perusahaan.”
3. Mengaitkan dengan Pengalaman
Pada saat interview kerja, kamu bisa mengaitkan jawabanmu dengan pengalaman yang sudah kamu miliki.
Berikut cara menjawab pertanyaan berdasarkan pengalaman yang kamu miliki:
“Sebagai seorang marketing, saya terbiasa termotivasi oleh proyek yang kreatif, kerja sama tim, dan mampu berkomunikasi dengan klien. Oleh karena itu, saya ingin menerapkan dari hasil yang sebelumnya dan mengembangkannya di perusahaan ini.”
4. Jawaban Relevan
Menjawab pertanyaan recruiter dengan jawaban yang relevan akan menunjukkan bahwa kamu adalah karyawan yang bisa diandalkan.
Berikut contoh memberikan jawaban yang relevan:
“Saya termotivasi untuk meningkatkan sales di perusahaan ini. Hal ini karena dengan sales yang tinggi, perusahaan bisa meraup untung dan bisa mensejahterakan karyawannya.”
Baca Juga: Penilaian Kinerja Karyawan: Pengertian, Indikator, & Contoh
10 Kata-Kata Motivasi Kerja dari Para Tokoh Populer
Hampir setiap tokoh terkenal memiliki cerita kehidupannya dalam meraih kesuksesan. Mereka juga pernah berada di titik terendah dalam hidupnya dan mereka pun mampu bangkit dan berjuang untuk menggapai cita-citanya. Berikut ini kata-kata motivasi kerja dari para tokoh populer yang bisa kamu jadikan motivasi kerjamu juga, yaitu:
"Sukses bukanlah suatu kebetulan, ia terbentuk dari kerja keras, ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting adalah cinta akan hal yang sedang atau ingin kamu lakukan." (Pele)
"Setiap orang pernah gagal, habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda." (Dahlan Iskan)
"Jangan menabung dari yang tersisa, tapi habiskan yang tersisa setelah menabungnya." (Warren Buffet)
"Jadilah 'orang kecil' yang berpikir besar. Jangan jadi 'orang besar' yang berpikir kecil atau sempit." (Andrie Wongso)
"Ingat, setelah gagal harus terus melangkah dan jangan pernah berhenti karena kegagalan yang sesungguhnya adalah ketika kita berhenti." (Bob Sadino)
"Tidak perlu takut gagal, bekerjalah semaksimal mungkin dan percayalah bahwa semua jerih payahmu akan diperhitungkan oleh Tuhan." (Merry Riana)
"Kapasitas masa depanmu bergantung pada buku yang kamu baca dan dengan orang yang ajak bergaul." (Bong Chandra)
"Ada uang enggak boleh sombong, enggak punya uang juga enggak boleh nyolong. Enggak banyak uang juga jangan suka bohong." (Jusuf Hamka)
"Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu, anak muda menawarkan masa depan." (Anies Baswedan)
"Janganlah kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu, tetapi tuntutlah dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu kepada Allah." (Ibnu Atha'illah)
Kesimpulan
Dalam suatu perusahaan sebaiknya terdapat motivasi kerja untuk para karyawannya. Motivasi kerja ini dilakukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Turunnya semangat kerja seorang karyawan merupakan hal yang wajar dan normal. Namun bukan tidak mungkin, dengan memahami motivasi kerja akan membantu performa dan kinerja karyawan ke depannya.
Referensi selanjutnya:
Akhmad Solihin August 19, 2023 CB Blogger Indonesia
Hakikat Motivasi Kerja
Sekolah Dasar (SD) dikenal sebagai jenjang pendidikan formal paling dasar di Indonesiastelah pendidikan Anak Usia Dini PAUD sebagai pondasi pendidikan pra sekola. Filosofi terkait integral dari pendidikan Indonesia melalui jenjang sekolah dasar terdapat dalam gambar logo SD yang selalu tertempel di seragam sekolah SD itu sendiri.
1. Bunga Bintang Sudut Lima Dengan Lima Kelopak Daun Bunga
Lambang pertama adalah bunga bintang sudut lima dengan lima kelopak daun bunga yang memiliki makna bahwa generasi muda adalah bunga harapan bangsa.
Melalui bentuk bintang sudut lima menunjukkan adanya kemurnian jiwa siswa yang berintikan pada dasar negara yakni Pancasila.
Selain itu, lambing ini menunjukkan arti terkait para siswa yang berdaya upaya melalui lima jalan dengan sungguh-sungguh untuk bisa menjadi warga negara yang baik dan berguna nantinya.
Sementara, kelima jalan tersebut dilukiskan melalui lima kelopak daun bunga, yaitu tentang abdi, adab, ajar, aktif, dan amal.
2. Buku Terbuka
Buku terbuka mengandung arti dan makna terkait kegiatan belajar keras menuntut ilmu pengetahuan serta teknologi yang menjadi bagian dari sumbangsih siswa terhadap pembangunan bangsa dan negara.
3. 17 Butir Padi, 8 Lipatan Pita, 4 Buah Kapas, dan 5 Daun Kapas
Selanjutnya, terdapat lambang 17 butir padi, 8 lipatan pita, 4 buah kapas, dan 5 daun kapas yang menunjukkan adanya tanggal 17 Agustus 1945 sebagai peristiwa penegakan jembatan emas kemerdekaan Indonesia.
Tentu lambang ini menunjukkan adanya nilai–nilai perjuangan ’45 yang harus dihayati para siswa/ peserta didik sebagai penerus perjuangan bangsa.
4. Warna Coklat
Warna coklat pada gambar logo SD melambangkan warna tanah Indonesia, serta mengandung makna pijakan pada kepribadian budaya sendiri dan rasa nasional Indonesia.[/vc_column_text]
5. Warna Merah Putih
Selain coklat juga ada warna merah putih yang melambangkan warna kebangsaan Indonesia tentang hati yang suci dan berani dalam membela kebenaran.
6. Kata SD
Melambangkan adanya identitas tingkatan Sekolah Dasar pada siswa yang mengenakan seragam tersebut.
7. Gambar Bangunan/Rumah
Lambang satu ini mengandung arti adanya sekolah dasar yang berperan sebagai tempat putra putri menuntut ilmu.
Nah, setelah mengetahui arti dan makna dari gambar logo SD di atas, kini Anda sudah lebih mengerti terkait filosofinya. Selanjutnya bisa menjelaskan kepada yang belum mengetahui dan memahami arti logo atau lambang Sekolah SD ini.
Akhmad Solihin August 10, 2023 CB Blogger Indonesia
ARTI LOGO DAN LAMBANG SD BESERTA MAKNA FILOSOFINYA
Visiuniversal----Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Ki Hajar Dewantara menjabarkan bahwa tujuan pendidikan terbagi menjadi tiga, yaitu: Membentuk budi didik yang halus pada pekerti peserta.
Menurut KHD, mendidik dan mengajar adalah proses memanusiakan manusia, sehingga harus memerdekakan manusia dan segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental , jasmani dan rohani. Hal positif yang bisa diterapkan di kelas/sekolah sesuai dengan budaya Jawa/ orang Banyumas yang berkarakter seperti tokoh Banyumas yaitu Semar/ Bawor yang sifatnya adalah suka momong, walaupun sakti beliau tidak pernah sombong dan selalu memperhatikan akhlak yang mulia (memperhatikan tata krama terhadap orang tua, juga sayang terhadap yang lebih muda, dekat dengan Tuhan), bekerja itu tidak hanya mengandalkan otak semata,tetapi juga dengan kerja keras, maka dibutuhkan keterpaduan kerja otot dan otak untuk hasil yang maksima, rajin, suka bekerja keras dan cekatan (cancudan: bhs Banyumas).
Sama dengan filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pengembangan budi pekerti (olah cipta, olah karya, olah karsa, dan olah raga) yang terpadu menjadi satu kesatuan. Hasil hasil positif yang sesuai dengan pemikiran KHD yaitu :
1. Prinsip kepmimpinan sebagai seorang guru yaitu
- Ing ngarso sung tuladho (maka orang tua atau guru sebagai suri tauladan anak dan siswa)
- Ing madya mangun karso (yang ditengah memberikan semangat ataupun ide-ide yang mendukung)
- Tut wuri handayani (yang dibelakangan memberikan motivasi
2. Sistem pendidikan yang dilakukan yaitu menggunakan sistem among atau Among Methode artinya guru itu menjaga, membina dan menididk anak kasih sayang
3.Tri pusat pendidikan yaitu yang mewarnai peserta didik adalah keluarga, sekolah dan masyarakat.
4. Asas asas dalam pendidkan ada 5 yaitu :
- - Asas Kemerdekaan
- - Asas Kodrat Alam
- - Asas Kebudayaan
- - Asas Kebangsaan
- - Asas Kemanusiaan











